![]() |
| Temaram lampu Malam Ibu Kota |
Prologue
“Merasakan
kesulitan tidak semudah merasakan sakit”. Barangkali itu kesan yang akhirnya
tertambat dalam pikiran dan perasaanku selama empat bulan lebih menginjakkan
kaki di tanah perantauan. Setiap kali hendak berpikir, selalu saja ada seribu
satu macam pikiran yang masuk. Pikiran-pikiran itu memecah belah perasaan
sehingga akal dan hati hanya mampu merasakan kesulitan. Yah... Sulit hidup di
Jakarta, kota metropolitan yang keras ini.
Masuk
UI
Universitas Indonesia adalah universitas terbesar di
tanah air. Siapa yang tidak mau bergabung menjadi mahasiswa berjas kuning ini
(?). Bayangkan saja, hampir tiap periode, ada sekitar belasan ribu calon yang
mengikuti test masuk untuk meraih kuota sekian ribu peserta yang diterima.
Secara tersirat, UI adalah kebanggaan para akademisi. Tujuan dari sekian banyak
pencari ilmu. Tak heran, ketika saya dinyatakan menjadi salah satu mahasiswa
UI, tak kepalang gembira dan bangganya.
Takdir kebanggaan itu bukan tanpa tantangan. Masuk UI
yang ketat ternyata juga dibarengi dengan biaya kuliah yang sangat mahal. Luar
biasa peningnya kepala ini tatkala memikirkan biaya kuliah. Bukan karena tidak
mampu membayar, melainkan lebih-lebih karena aku tak punya uang sepeserpun
untuk membayarnya. Semua biaya malah ditanggung orangtua di kampung yang mesti
membiayai tiga adik saya yang lain. Miris dan susah sekali. Pikiran menjadi
bertambah sulit ketika berusaha mencari jalan keluar bagaimana harus menutupi
pengeluaran harian saya (?).
Pengeluaran
tanpa Pemasukan
Pepatah tua mengatakan “besar pasak dari pada tiang”.
Kurang lebih demikian siklus hidupku saat ini. Setiap hari harus membayar
ongkos busway dari Cawang BKN ke Salemba UI dengan biaya Rp7.000 ditambah
dengan ongkos makan sekitar Rp8000. Kalau dihitung-hitung, pengeluaran saya
paling sedikit sekitar Rp.60.000 perbulan. Namun itu masih terhitung kecil
kalau harus dihitung dengan ongkos angkot untuk pulang ke Cilangkap yang
jumlahnya sekitar Rp.5000 dari Taman Mini untuk sekali pergi. Belum lagi
dihitung dengan pengeluaran untuk pulsa dan buku. Secara kasar, cepe mungkin harus melayang selama
sebulan. Jika dihitung selama satu semester, jumlah pengeluaran bisa mencapai
Rp.500.000.
Pengeluaran
ini mungkin terhitung kecil jika dibandingkan dengan mahasiswa lain yang harus
menyewa kos, catering, laundry, dan rekreasi. Saya masih
beruntung karena punya saudara di Cawang dan Mama Kecil (bu de) di Cilangkap, tempat saya membaringkan badan dan
mencicipi makanan. Lagi pula, kebiasaan
saya untuk tidak sarapan pagi juga membantu mengurangi pengeluaran, walaupun
saya sadari kebiasaan itu bisa mengganggu kesehatan saya. Namun, hal itu
mungkin hanya membantu untuk memperkecil pengeluaran saya tanpa pernah bisa
menutup pengeluaran.
Penganggur
di antara Pengamen & Pengemis
Tragis
memang, saya yang telah menyabet gelar sarjana filsafat ini belum juga
memperoleh pekerjaan. Tidak ada pekerjaan lain untuk sekadar memperoleh
penghasilan kecil-kecilan. Ada begitu
banyak lamaran yang sudah coba saya apply,
tetapi tidak ada satupun yang merespon. Hingga saya pun berkeinginan untuk
mengamen ataupun duduk di pinggir jalan dan di jembatan halte transjakarta
untuk mengemis. Barangkali itu sebabnya, setiap kali saya berhadapan dengan
pengemis, rasa iba dan sedih selalu saja muncul. Ingin saya berikan sepeser
uang logam, tapi apa daya, uang seratus rupiah pun masih berguna di kota
metropolitan ini. Sedih rasanya tidak dapat membantu, walaupun saya secara
inklusif merasa turut prihatin sebab ada lebih banyak orang yang juga merasakan
kesulitan seperti saya.
Saya tidak bisa bayangkan ada berapa banyak orang yang
menganggur seperti saya di Jakarta. Melihat para pengamen dan pengemis,
sepertinya saya sedikit terhibur karena bisa membagi rasa sulit ini bersama
mereka. Rasa terhibur itu sedikit bertambah, ketika dalam sesion introduksi,
ada beberapa orang teman yang juga belum bekerja seperti saya. “Jangankan saya
yang baru hijrah dari Flores-NTT, mereka yang sudah lama menetap di Jakarta dan
menyelesaikan kuliah strata 1 juga belum bekerja. Ada apa dengan pendidikan?
Ada apa dengan Jakarta?
Kata-Kata
Hiburan
Walaupun
demikian, saya sering terhibur dengan kata-kata Gerry, “kak, cari uang itu
gampang, tetapi cari ilmu itu susah”. Kata-kata yang memotivasi saya untuk giat
belajar dan terus berjuang mengatasi kesulitan. “Orang mesti mengalami
kesulitan dan kesusahan kalau ia mau sukses”. Orang Mesti gagal kalau mau
sukses, kata-kata yang selalu saya gumam dalam hati. Kata-kata yang bisa
melupakan besarnya ongkos angkot dan motivasi yang melupakan rasa lapar dan
haus.
“Ada
banyak sekali pekerjaan di Jakarta ini bang”, kata seorang teman ketika saya
memperkenalkan ke-penganggur-an saya. Kata-kata ini mengilhami saya untuk terus
mencari dan mencari seribu satu macam pekerjaan yang cocok dan kapabel dengan
kemampuan dan potensi saya.
Epilog
Ingin sekali saya akhiri tulisan saya ini dengan
kata-kata yang melegahkan: “akhirnya
saya diterima bekerja di......”, “saya pun masih punya waktu untuk
menyelesaikan kuliah....”. Tapi ini masih sebuah harapan. Ini masih mimpi yang
entah kapan akan menjadi kenyataan. Ini masih menjadi mimpi yang menghantui
pikiran dan perasaan saya. Ini masih kesulitan saya. Berharap waktu dapat cepat
berdamai dengan perasaan saya dan saya harus kembali menjalani kehidupan normal
saya. Dengan begitu, judul di atas dapat diubah (?).
Cawang, Dewi Sartika C3/8
Selasa, 25 September 2012








0 comments:
Post a Comment
tks for your support...