Your Life Your Way

Friday, September 28, 2012

SULITNYA HIDUP DI JAKARTA (Would be changed?)




Temaram lampu Malam Ibu Kota
Prologue
“Merasakan kesulitan tidak semudah merasakan sakit”. Barangkali itu kesan yang akhirnya tertambat dalam pikiran dan perasaanku selama empat bulan lebih menginjakkan kaki di tanah perantauan. Setiap kali hendak berpikir, selalu saja ada seribu satu macam pikiran yang masuk. Pikiran-pikiran itu memecah belah perasaan sehingga akal dan hati hanya mampu merasakan kesulitan. Yah... Sulit hidup di Jakarta, kota metropolitan yang keras ini.


Masuk UI
            Universitas Indonesia adalah universitas terbesar di tanah air. Siapa yang tidak mau bergabung menjadi mahasiswa berjas kuning ini (?). Bayangkan saja, hampir tiap periode, ada sekitar belasan ribu calon yang mengikuti test masuk untuk meraih kuota sekian ribu peserta yang diterima. Secara tersirat, UI adalah kebanggaan para akademisi. Tujuan dari sekian banyak pencari ilmu. Tak heran, ketika saya dinyatakan menjadi salah satu mahasiswa UI, tak kepalang gembira dan bangganya.
            Takdir kebanggaan itu bukan tanpa tantangan. Masuk UI yang ketat ternyata juga dibarengi dengan biaya kuliah yang sangat mahal. Luar biasa peningnya kepala ini tatkala memikirkan biaya kuliah. Bukan karena tidak mampu membayar, melainkan lebih-lebih karena aku tak punya uang sepeserpun untuk membayarnya. Semua biaya malah ditanggung orangtua di kampung yang mesti membiayai tiga adik saya yang lain. Miris dan susah sekali. Pikiran menjadi bertambah sulit ketika berusaha mencari jalan keluar bagaimana harus menutupi pengeluaran harian saya (?).

Pengeluaran tanpa Pemasukan
            Pepatah tua mengatakan “besar pasak dari pada tiang”. Kurang lebih demikian siklus hidupku saat ini. Setiap hari harus membayar ongkos busway dari Cawang BKN ke Salemba UI dengan biaya Rp7.000 ditambah dengan ongkos makan sekitar Rp8000. Kalau dihitung-hitung, pengeluaran saya paling sedikit sekitar Rp.60.000 perbulan. Namun itu masih terhitung kecil kalau harus dihitung dengan ongkos angkot untuk pulang ke Cilangkap yang jumlahnya sekitar Rp.5000 dari Taman Mini untuk sekali pergi. Belum lagi dihitung dengan pengeluaran untuk pulsa dan buku. Secara kasar, cepe mungkin harus melayang selama sebulan. Jika dihitung selama satu semester, jumlah pengeluaran bisa mencapai Rp.500.000.
Pengeluaran ini mungkin terhitung kecil jika dibandingkan dengan mahasiswa lain yang harus menyewa kos, catering, laundry, dan rekreasi. Saya masih beruntung karena punya saudara di Cawang dan Mama Kecil (bu de) di Cilangkap, tempat saya membaringkan badan dan mencicipi  makanan. Lagi pula, kebiasaan saya untuk tidak sarapan pagi juga membantu mengurangi pengeluaran, walaupun saya sadari kebiasaan itu bisa mengganggu kesehatan saya. Namun, hal itu mungkin hanya membantu untuk memperkecil pengeluaran saya tanpa pernah bisa menutup pengeluaran.

Penganggur di antara Pengamen & Pengemis
Tragis memang, saya yang telah menyabet gelar sarjana filsafat ini belum juga memperoleh pekerjaan. Tidak ada pekerjaan lain untuk sekadar memperoleh penghasilan kecil-kecilan.  Ada begitu banyak lamaran yang sudah coba saya apply, tetapi tidak ada satupun yang merespon. Hingga saya pun berkeinginan untuk mengamen ataupun duduk di pinggir jalan dan di jembatan halte transjakarta untuk mengemis. Barangkali itu sebabnya, setiap kali saya berhadapan dengan pengemis, rasa iba dan sedih selalu saja muncul. Ingin saya berikan sepeser uang logam, tapi apa daya, uang seratus rupiah pun masih berguna di kota metropolitan ini. Sedih rasanya tidak dapat membantu, walaupun saya secara inklusif merasa turut prihatin sebab ada lebih banyak orang yang juga merasakan kesulitan seperti saya.
            Saya tidak bisa bayangkan ada berapa banyak orang yang menganggur seperti saya di Jakarta. Melihat para pengamen dan pengemis, sepertinya saya sedikit terhibur karena bisa membagi rasa sulit ini bersama mereka. Rasa terhibur itu sedikit bertambah, ketika dalam sesion introduksi, ada beberapa orang teman yang juga belum bekerja seperti saya. “Jangankan saya yang baru hijrah dari Flores-NTT, mereka yang sudah lama menetap di Jakarta dan menyelesaikan kuliah strata 1 juga belum bekerja. Ada apa dengan pendidikan? Ada apa dengan Jakarta?

Kata-Kata Hiburan 
Walaupun demikian, saya sering terhibur dengan kata-kata Gerry, “kak, cari uang itu gampang, tetapi cari ilmu itu susah”. Kata-kata yang memotivasi saya untuk giat belajar dan terus berjuang mengatasi kesulitan. “Orang mesti mengalami kesulitan dan kesusahan kalau ia mau sukses”. Orang Mesti gagal kalau mau sukses, kata-kata yang selalu saya gumam dalam hati. Kata-kata yang bisa melupakan besarnya ongkos angkot dan motivasi yang melupakan rasa lapar dan haus.
“Ada banyak sekali pekerjaan di Jakarta ini bang”, kata seorang teman ketika saya memperkenalkan ke-penganggur-an saya. Kata-kata ini mengilhami saya untuk terus mencari dan mencari seribu satu macam pekerjaan yang cocok dan kapabel dengan kemampuan dan potensi saya.


Epilog
            Ingin sekali saya akhiri tulisan saya ini dengan kata-kata yang  melegahkan: “akhirnya saya diterima bekerja di......”, “saya pun masih punya waktu untuk menyelesaikan kuliah....”. Tapi ini masih sebuah harapan. Ini masih mimpi yang entah kapan akan menjadi kenyataan. Ini masih menjadi mimpi yang menghantui pikiran dan perasaan saya. Ini masih kesulitan saya. Berharap waktu dapat cepat berdamai dengan perasaan saya dan saya harus kembali menjalani kehidupan normal saya. Dengan begitu, judul di atas dapat diubah (?).

Cawang, Dewi Sartika C3/8
     Selasa, 25 September 2012     

0 comments:

Post a Comment

tks for your support...

Search