Your Life Your Way

Sunday, April 3, 2011

Vendetta


            VENDETTA



Prolog:
            Bingkisan kisah ini terbit dari kediaman sanubari untuk menampilkan secuil kisah tentang kelahiran Firman di belantara dendam dan nafsu kekuasaan Dinasti Herodian. Hampir sebagian besar kisah mempertontonkan lika-liku kehidupan kerajaan Herodian, terutama kemunculan seorang diktator dan  kematiannya yang misterius. Adegan-adegan yang dibuat ini hampir seluruhnya diadaptasikan dengan data-data sejarah Josefus Flavius, seorang Sejarahwan yang terkenal untuk peristiwa ini.
            Selain itu, lewat carikan kertas yang tak terbukukan, adegan-adegan ini coba dibingkis dalam alur-alur yang hadir via aktus imaginasi. Diracik bersama sejumlah ide yang terlintas, penulis berusaha menggandeng dan memunculkan makna NATAL secara tersurat. Sebenarnya, tidak ada uraian gagasan yang cukup menarik selain dari deretan kata-kata penginjil Yohanes yang sangat sastrais. Karenanya, kata-kata itu dipakai sebagai dasar yang merangkum seluruh arti pemilihan judul kisah ini.
            Hanya satu Pertanyaan Besar: Mengapa Firman yang baru lahir itu tidak terbunuh di tengah ankara Herodian?
(diselingin instrumen)


NaraTOR 1:

                        Gerugi besi adalah kaki tangan kelemahan
                        Ketika seorang berusaha menunjukkan kekuasaannya....
                        Sayatan pedang adalah buah tangan kenistaan
                        Tatkala amarah berusaha menyuarakan dendam....
                                    Di situ ada sejumput kisah
                                    Di situ ada segenggam nafsu
                                    Di situ ada segudang dusta
                                    Di situ ada semburan laknat
                            Dari lahirr yang terus bergulir....
                            Darah.... di atas..... darah.....

ADEGAN 1
NaraTOR 2:
            Tahun 37 SM adalah Zaman di mana kekuasaan Dinasti Hasmoni yang hampir seabad lebih menguasai Yudea dan Galilea, berada di ujung kehancuran. Pasalnya, Antigonus yang baru saja merebut tampuk kerajaan dari Hirkanus II, saudara ayahnya, kini harus rela melepaskan titel ‘sang raja’ serta menyulam kisah tragis sebagai Raja terkhir dari kalangan Imam. Hal itu terjadi tatkala prajurit Partia yang menjadi benteng pertahanan terakhirnya dikalahkan pasukan Romawi.... Itu berarti, kini Ketakutan utamanya cuma satu.... yakni Herodes, si pemuda cerdik dan kejam keturunan Idumea itu kini sedang menyerang Yerusalem membawa serta kobaran nafsu ‘tuk merebut  ‘jubah maharaja’ seluruh wilayah Israel…..Ia tahu pasti pembunuhan terhadap Fasael, saudara Herodes 4 tahun silam bisa jadi slah satu ‘peti dendam’ raja negeri Galilea itu...
                  Suara angin sore itu terdengar begitu lirih. Sebentar-sebentar hawa panasnya mengubah debu-debu halus entah menjadi apa. Di sana-sini, sinar sang surya mulai menampakkan cahaya kuning kemerahan…sebentar lagi… lelap termakan waktu. Sedikit demi sedikit terdengar auman serigala dan desisan ular. Mereka seakan bersatu meracik sore yang pelik..
                  Sementara itu, di tengah belantara pasir, seorang lelaki dekil dengan kedua tangan yang diikat rantai,  diapit dua serdadu menuju ke gundukkan pasir yang lebih tinggi. ia dipaksa berlutut menghadap surya yang tampak angker. Di belakangnya ada dua panglima perang berbaju baja… Sesaat kemudian, yang seorang dengan penuh amarah meraih pedang bermata dua lalu menancapkannya ke tubuh pembunuh…
                  Tak ada suara… tak ada tangis… tak ada tawa….
                  Selain tubuh fana Antigonus yang tergeletak tak bernafas di tengah samudera pasir…. Di hadapan Herodes seorang pembunuh.....

Layar ditutup

ADEGAN 2
RENCANA  BATIN
Latar: Bilik Antipater. Aktor: Antipater, Doris, dan Strabo.
Antipater, putra Herodes dari Istri pertamanya, Doris berada sendiri dalam biliknya. Ia sedang duduk, bergulat dengan perasaan dan pikirannya.

Antipater   :     (muka menghadap penonton, raut wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu) Yahhh.... aku harus mencuri kesempatan.... aku harus bisa mengambil hatinya. Dan mencuri perhatiannya....bukankah aku darah daging yang paling berhak menjadi ahli waris kerajaan?
                                    (diam sejenak lalu berdiri dari tempat duduknya. Sebentar sebentar ia maju, sebentar-sebentar ia mundur....dengan wajah yang keheranan)
                                    Tapi... mengapa ia lebih memperhatikan anak-anak dari wanita jalang itu? Apakah ia tidak tahu kalau di dalam daging wanita itu masih tersirat aliran darah musuh, darah dari daging yang dipenggalnya? Oh... betapa anehnya kehidupan ini.
                                    (menuju ke sudut kanan depan panggung)
                                    walaupun demikian, aku harus berada di tengah lautan, menjadi pusara kalbu yang menghempaskan deru gelombang, ’tuk menghapus nista ini. Yah...yah... (dengan suara lebih keras) Pokoknya aku harus bisa.
                 
                  (Doris dan Strabo, seorang ahli kitab, memasuki bilik Antipater)
Doris         :     Apa yang sedang kamu pikirkan Anakku?
Antipater   :     (menuju tempat duduknya lalu duduk) Entahlah ibu. Aku merasa aku tidak dapat memikirkan sesuatu pun. Aku hanya bisa merasakan suatu peperangan besar yang akan terjadi.
Doris         :     (dengan nada heran) Peperangan kataMu? Apakah yang Kamu maksudkan itu Antipater?
Antipater   :     Aku merasakan akan terjadi suatu pertempuran dashyat di dalam samudera darahku. Semua orang akan bersimbah darah, menjadi pembunuh dan pengkhianat...karena memang itu berasal dari mata air yang sama. Masakan ibu tidak dapat merasakannya?
Doris         :     Aku tidak dapat mengerti maksudMu anakku. Engkau semakin aneh, aneh sekali sejak menyaksikan secara langsung ceceran darah para pemberontak. Bahkan keanehan itu kini menjadi api yang membara. Apakah aku mampu berdiam di tengahnya? (diam sejenak)
Strabo        :     Maaf Pangeran... Bukankah api itu akan membakar daging dan darah sehingga yang tersisa hanyalah debu?
Antipater   :     Benar sobatku. Kita semua akan menjadi debu. Tetapi sumbernya harus lebih dahulu menjadi debu. Darah darimana aku berasal.
Doris         :     (dengan suara agak keras) Apa yang hendak Engkau lakukan putraku? Engkau hendak berperang melawan ayahmu?
Antipater   :     Bukan sekadar berperang ibu. Bahkan lebih dari itu, aku ingin membagi penderitaan ini kepadanya. Aku mau supaya ayah juga bisa melihat betapa seorang anak rindu dekapan kasihnya, pelukan cinta kesunyian dan pedih yang mendalam. Dengan demikian tidak ada lagi kebahagian di atas darah, di atas pembunuhan... semuanya terbakar hangus, hancur, dan menjadi debu!
Strabo        :     Maaf Pangeran....mengapa tidak sebaiknya pangeran berperang dengan darah lain dari sumber yang sama?
Antipater   :     Seorang yang menjarah barang perampok akan terus dibayangi maut kalau yang dirampok itu masih hidup. Sebab sekali-kali ia akan merampas kembali harta miliknya. Tetapi kalau perampok itu dibunuh maka semua barang akan dijarah tanpa ketakutan akan dirampas kembali. (diam sejenak) Namun sesungguhnya cerita akan berjalan pada alurnya sendiri.... Aku melihat semua perampok akan menjadi satu, terurai dari satu darah dan terlebur menjadi satu debu.
Doris         :     Kalau memang itu kemauanmu, perbuatlah! Perbuatlah apa yang kau pandang baik bagi dirimu, bagi nenek moyangmu, bagi bangsa Yahudi! Engkau pun tahu bahwa hartaku yang paling berharga adalah dirimu, sehingga penderitaanmu adalah penderitaanku, perjuanganmu adalah juga perjuanganku...
Strabo        :     Orang-orang Yahudi tentu berbangga padamu Pangeran. Siapa pun tentu ingin menjauhi prahara sebab ia tidak ingin terkubur oleh kekejaman. Sepekan lalu 12 ribu orang yahudi dibunuh. Mereka dituduh sebagai pemberontak setelah kedua pejuang, Yudas dan Matias, bersama 12 rekannya ditangkap dan dibunuh ketika mencoba menurunkan patung Rajawali Emas yang ditempatkan di gerbang Bait Allah atas perintah Herodes. Sementara beberapa kalangan perantauan di Antiokhia digantung dan dibakar hidup-hidup karena mencoba mencuri marmer yang dipakai Herodes untuk menghiasi dinding tiang di sepanjang jalan menuju Kuil Octavianus.
Antipater   :     Sejak dahulu kala orang-orang Yahudi membenci orang-orang Idumea. Dan sekarang orang-orang itu semua berada dalam darahku. Mereka saling membenci, saling berperang, dan saling membunuh. Aku merasakan betapa pedihnya tubuhku lantaran getaran aliran darahku. Karena itu, aku ingin membersihkan darahku dari racun. Aku ingin membersihkan diri dari darah seorang pembunuh dan membiarkan semuanya terbakar api hingga menjadi satu debu.
                                    (sementara itu seorang pengawal masuk)
Pengawal   :     Ampun yang mulia Tuanku Pangeran. Di luar ada seorang utusan Raja Herodes. Ia ingin bertemu dengan Pangeran.
Antipater   :     Bawa dia masuk!
Pengawal   :     Baik Tuan. (lalu berjalan ke luar-diam sejenak)
Antipater   :     Apakah gerangan yang terjadi? Apakah peperangan ini akan segera dimulai? (semuanya terdiam, mereka tenggelam dalam seribu satu macam dugaan tentang apa yang kelak terjadi)
                                    (kemudian pengawal itu masuk dengan utusan raja Herodes)
Utusan Raja    :           Ampun Tuanku Pangeran... Yang Mulia Raja Herodes memerintahkanku memberi surat ini kepada Pangeran. (setelah memberikan surat, utusan itu kembali dengan didampingi pengawal; sementara itu Antipater berjalan menuju sudut panggung bagian kiri, perlahan-lahan membuka surat dan membacanya di dalam hati. ia menampakan ekspresi wajah yang bingung, seakan sedang dilanda suatu misteri yang belum terpecahkan...)
Doris         :     (dengan suara yang agak gugup) Apa yang diperintahkannya kepadamu Putraku?
Antipater   :     Entahlah ibu. Ayah akan membuat suatu pertemuan penting dengan para Deputi kerajaan. Pertemuan para Deputi dilakukan hanya kalau akan terjadi suatu peperangan besar. Apakah dia tahu kalau-kalau akan terjadi pemberontakan besar??
Strabo        :     Barangkali hanya sebuah kegelisahan yang tak nyata, Pangeran. Perasaan Raja kacau karena sakit yang dideritanya.
Antipater   :     Darimana engkau tahu bahwa dia sakit?
Strabo        :     Siapapun mengenal Herodes, raja negeri Yudea dan Palestina. Tidak pernah terjadi suatu pemberontakan yang berhasil menggulingkan kekuasannya. Setiap orang pun mengetahui dan merasakan betapa cerdik, licik, dan tegarnya perangai sang raja. Bahkan kaisar Agustus pun tidak menyangkal betapa kejamnya Herodes.... karena itu, mana mungkin seorang eseni berani melakukan peperangan besar? Aku menduga kegelisahannya terlampau jauh, sehingga ketakutan itu menjadi sakit yang harus dideritanya.
Antipater   :     Beberapa hari yang lalu, aku mendengar bahwa ia sedang sakit. Tapi tak tahu sakit apa yang sedang dideritanya. Barangkali ia tersiksa oleh karena kekejamannya sendiri?? Ah.... tak mungkin. Itu sama sekali tidak mungkin.....jedah. Tapi, yang membuatku heran, ada apakah gerangan yang membuat ia juga mengundang ahli kitabku. (sambil melihat Strabo, kemudian berpikir sejenak) (diam sejenak)
                        Kalau begitu, baiklah sekarang kita bersiap sahabatku! Engkau bersama aku harus menghadap ayah. Pastinya ada peristiwa penting yang bakal terjadi. Anggaplah saja ini sebagai awal dari sebuah pertempuran-awal dari suatu kehancuran.
Layar ditutup
                                   

 

ADEGAN 3

PRAHARA MIMPI


(Latar        : Istana Herodes)
Aktor         : Herodes, Nikolas, 2 Deputi Kerajaan, 3 Orang Majus, Antipater dan Strabo,                 Panglima, seorang prajurit dan 2 orang pengawal.
(Herodes sedang berdiri di singgasananya diapiti oleh 2 orang pengawal, sesekali ia berbatuk. Di bagian kiri bawah, duduk seorang ahli kitab sejarah, Nikolas dari Damaskus)

Herodes     :     Paman.... adakah aku kelihatan lemah? Adakah aku tidak lagi kelihatan sebagai seorang Dewa? (sesekali berbatuk)  Ataukah aku terlalu tangguh sampai-sampai aku kelihatan begitu rapuh?
Nikolas      :     Maaf yang mulia.... aku bahkan tidak melihat sedikit pun kerapuhan dalam diri paduka.
Herodes     :     Tetapi aku merasa ....(gelisah).... aku merasa ragaku terus-menerus diusik jiwa. Hatiku begitu perih bahkan melampaui hasratku.
Nikolas      :     Barangkali Paduka terlalu letih dengan pekerjaan Paduka. Perasan itu mungkin ingin mengajak Paduka untuk beristirahat.
Herodes     :     (berjalan ke depan panggung, suara agak keras) Aku tidak pernah merasa letih Paman. Sedikitpun tidak. Bukan kah Paman bisa menyaksikan sendiri bagaimana aku dapat merebut benteng Masada dan menghancurkan gerbong para Sicarii dengan kekuatan tempurku sendiri. Padahal aku baru saja pulang dari pertempuran di daerah Nabatea. Aku hanya didorong hasratku. Dan hasrat itulah kekuatanku. (diam sejenak)
                        Tetapi mengapa sekarang rasa perih ini jauh melampaui hasratku?
Nikolas      :     Maafkan aku yang mulia. Kalau saya boleh bertanya: apakah gerangan yang menambati hati Paduka? Adakah itu terlampau sukar bagi Paduka? Mengapakah kini paduka begitu mudah dikelabui perasaan...
Herodes     :     Entahlah Paman. Aku merasa perasaan ini takkan pernah sirna. Ia datang dan terus datang menghantuiku bahkan saat tubuhku tegar dan kuat.
                        (diam dan terpekur bingung)
                        (kemudian seorang prajurit masuk)
Prajurit      :     Ampun paduka....Para Deputi Kerajaan telah datang kecuali Pangeran Antipater.
Herodes     :     Bawa mereka masuk!
Prajurit      :     Baik Paduka.
                        (Prajurit itu pergi menjemput  para Deputi Kerajaan lalu membawa mereka masuk ke istana Herodes)
Verrus dkk      :           Salam dan Hormat kami Paduka yang mulia....
Herodes     :     Selamat datang sahabat-sahabatku. (diam sejenak, para Deputi mengambil tempat duduknya masing-masing)
                        Aku sangat bergembira karena kedatangan kalian... terlebih atas kerelaan kalian untuk memenuhi undanganku.
Verrus       :     Maaf yang Mulia. Kalau saya boleh tahu, pertempuran apa lagi yang akan segera kita adakan. Adakah lagi pemberontak yang mencoba menghancurkan kekuatan tempur kita?
Herodes     :     Entahlah Verrus. Aku merasa ada suatu pemberontakan yang muncul dari kegelisahanku.
Pinerroes   :     Kegelisahan apakah yang sedang menyelimuti perasaan Paduka? Bukankah kehancuran Nabatea dan Partia adalah kekuatan akhir dari musuh-musuh kita. Lagipula Yudas, pemimpin para Sicarii telah ditangkap dan diibunuh. Adakah pemberontakan lain yang menggoncang kemasyuran Paduka?
Herodes     :     Tidak. Tidak sahabatku. (berkata dengan sangat congkak) kamu tahu kalau Yerusalem dan seluruh wilayah Yudea dalam masa-masa ketentraman dan kejayaan. Keadaan itu bahkan sampai dirasakan rakyatku di Asia kecil. Itu semua tentu karena aku. Yah... aku. Herodes Agung. Jedah. Karena itu, aku tidak bermaksud merencanakan suatu peperangan. Tetapi......(sesekali berbatuk)
Pinerroes   :     (menyambar perkataan Herodes) Adakah rencana baru yang akan kita buat Paduka?
Herodes     :     Tidak. Tidak Penerroes. Tak ada rencana baru yang akan kita lakukan. (suara agak berat, Pinerroes, verrus, dan Nikolas terdiam bingung, diam sejenak)
Nikolas      :     (berusaha memecahkan keheningan) Maaf yang mulia...
Herodes     :     (menyambar dengan suara keras) Sudahlah  Nikolas. (sesekali berbatuk) Telah kukatakan kalau kamu tidak dapat mengerti dengan perasaanku saat ini. Aku sendiri pun sulit mengetahuinya....(berhenti sejenak)
                        (berkata pada Verrus)
                        Bagaimana dengan pembangunan BentengKu di dusun Tekoa dekat Gaza, Verrus?
Verrus       :     Maaf Paduka. Sampai dengan saat ini pembangunan berjalan lancar namun belum sepenuhnya rampung. Sebagaian para pekerja masih membutuhkan waktu istirahat karena mereka baru saja melewati hari kerja yang berat di Antiokhia, memenuhi perintah Paduka untuk melapisi jalan-jalan kota dengan papan-papan marmer, secara khusus di jalur menuju Kuil Panghormatan kepada kaisar Augustus. Namun, Paduka tak perlu khawatir karena benteng untuk pertahanan militer, semuanya telah dipugar rampung, baik Benteng Aleksandra maupun Benteng Massada. Sampai saat ini, tidak ada sedikit pun tanda-tanda munculnya pemberontak.
                        (Herodes melihat ke arah Pinerroes)
Pinnerroes :     (seakan-akan sudah tahu apa yang dimaksudkan Herodes) Untuk mencegah munculnya pemberontakan kaum Zelotis, benteng Antonia di sudut barat laut bukit Bait Allah telah dibangun dan dilengkapi dengan kekuatan tempur yang sangat kuat, Paduka. Lagipula, Gedung-gedung teater dan gelanggang olahraga para gladiator juga telah digunakan; banyak orang Yahudi memuji-muji kepintaran Paduka.
                        (Herodes tetap diam dan gelisah seakan-akan tidak bergembira dengan kemegahan yang dibangunnya, verrus, Pinerroes, dan Nikolas tampak semakin bingung, sementara itu seorang Prajurit melapor)
Prajurit      :     Ampun Paduka.
Herodes     :     (menyambar) Katakan kalau putra kebangganku telah tiba!
Prajurit      :     Benar Paduka. Pangeran Antipater telah tiba bersama ahli kitabnya yang dikenal sangat hebat. (Nikolas menanggap sinis)
Herodes     :     Bawa mereka masuk!
Prajurit      :     Baik Paduka. (prajurit itu pergi menjemput dan membawa Antipater dan Strabo Masuk)
Antipater   :     Salam dan Hormatku, Ayahanda yang Mulia.
Herodes     :     (tersenyum) Selamat datang putra kebangganku! (Antipater dan Strabo mengambil tempat duduk)
                        Aku mendengar Engkau sangat sibuk dengan urusan pencacahan jiwa yang dibuat atas usul Wali Negeri Kirenius.
Antipater   :     Suatu bagian yang penting untuk mengetahui asal-asul  jiwa para pemberontak.
Herodes     :     Hahahahahaha (sesekali berbatuk). Sejak kapan Ayahmu ini takluk pada mereka.
Antipater   :     Barangkali sejak ayah menjadi anggotanya.
Herodes     :     Karena itulah para pemberontak tidak pernah menghancurkan pendirinya.
Antipater   :     Barangkali kalau darahnya tidak pernah tercecer.
Herodes     :     Kalau tidak demikian, mereka tidak lagi disebut pemberontak.
Antipater   :     Mungkin karena itulah mereka memilih lebih baik dibunuh daripada harus membunuh. Kesucian lebih penting daripada nafsu merebut kekuasaan.
Herodes     :     (tertawa) Sejak kapan kamu pandai bertutur bijak? (lalu ia kembali ke tempat duduknya dan berpikir lama)
                        Baiklah sahabat-sahabatku. Aku...(gelisah)...aku merasa begitu lemah (melihat verrus dan Pineroes) dengan kejayaan dan kemegahanku. Aku merasa sepertinya kini saatnya aku harus mewarisi tahta kerajaanku.
Nikolas      :     Bukankah ini terlalu cepat untuk Baginda?
Strabo        :     Ampun Paduka yang mulia. Maafkan aku kalau aku lancang berbicara.
Herodes     :     Katakan saja Strabo!
Strabo        :     Ketakutan hanya muncul dari perasaan. Perasaan itulah yang seketika membuat diri kita tak mampu berjuang.
Herodes     :     Maksudmu?
Strabo        :     Sekuat-kuatnya keinginan tidak akan dapat mengalahkan perasaan karena keinginan itu sendiri sebuah perasaan. Karena itu, perasaan sangat sulit diselidiki. Sesekali saat ia tak dapat dikalahkan, ia akan terus menghantui pikiran. Bahkan pada saat kita tidak sadar sekalipun.
Herodes     :     Maksudmu dalam mimpi?
Strabo        :     Bukan suatu yang mustahil Baginda.
                        (diam sejenak)
Herodes     :     (agak legah) Antipater... engkau punya seorang sahabat yang sangat cerdas. Karena itu (berkata pada Strabo) kamu harus bisa mengungkapkan kegelisahanku.
Antipater   :     Apakah yang menambati perasaan Ayah?
Herodes     :     (berdiri, sesekali berbatuk) Hampir tiap malam aku selalu digerogoti kemurungan. Terutama setelah istri kesayanganku, Mariamne, aku bunuh karena rencana makar mereka...jedah. aku kemudian sering dihantui mimpi yang datang entah dari mana.  Hampir tiap malam mimpi itu menggangu jiwaku, mimpi yang sama tetapi dengan seribu mata pedang yang tajam.
Strabo        :     Maaf yang mulia... Kalau sekiranya Paduka tidak berkeberatan, hamba boleh mendengar perihal mimpi Paduka.
Herodes     :     (berjalan sebentar ke kiri sebentar ke kanan, sesekali berbatuk) Aku melihat dua buah bintang yang indah bercahaya dari puncak benteng Herodian. Yang satu berukuran kira-kira 5000 homer, sedangkan yang satu berukuran lebih kecil, kira-kira berukuran ½ dari yang pertama. Keduanya sangat bersahabat seperti seorang ayah dan anak. Kedua bintang itu rupanya berada dalam sebuah bola bening yang sangat besar. Jedah. Tapi suatu ketika, suatu ketika, terjadi gempa bumi dan angin ribut yang dasyat. Badai yang dasyat itu menghancurkan bola bening berkeping-keping.  Bintang kecil di dalamnya terhempas dan menabrak bintang yang lebih besar. Tabrakan itu sungguh hebat. Kedua bintang itu hancur lebur. Dan pecahan-pecahannya berubah  menjadi percik-percik daraah.
Pinerroes   :     (kaget dan menyambar dengan suara agak keras) barangkali akan terjadi pemberontakan dalam dinasti Paduka??
Nikolas      :     Ampun Paduka. Kalau saya boleh menjawabnya, bintang yang benderang adalah tanda kemasyuran. Kecil dan besar adalah umur hidup mereka. Itu berarti akan terjadi pemberontakan dalam keluarga Paduka. (melihat Antipater) Anak yang paling masyurlah yang lebih mungkin melakukannya.
Strabo        :     Maaf yang mulia. Seorang perampok tidak mungkin membunuh sesamanya. Apalagi seorang sahabat. jedah. Hal itu hanya mungkin kalau sahabat itu telah membunuh saudara dari darah kandung sahabatnya.
Herodes     :     Maksudmu?
Nikolas      :     (menyambar) Maaf paduka. Orang yang telah mati tidak mungkin hidup kembali. Itu hanya bisa terjadi kalau seorang memakai topeng wajah manusia yang telah mati itu. Musuh yang paling besar sekarang adalah ketenaran. Karena itu, orang itu biasa berdiri di depan ketenarannya dan berusaha menjatuhkan ketenaran orang lain.
Strabo        :     (berkata pada Nikolas) Ketenaran orang lain lebih kecil ketakutannya daripada balas dendam sahabatku. Apakah aku takut mati karena aku tenar ataukah aku takut mati karena aku telah membunuh seorang dari keluarga kandungnya?
Herodes     :     (dengan suara berat) Katakan kepadaku.... Apakah aku harus membunuh anak-anak Mariamne?
Nikolas      :     Jangan tuan. Jangan kau lakukan itu. Cukup sekali saja penyesalan yang kau alami karena kematian Ibu mereka.
Strabo        :     Jangan sampai penyesalan itu muncul setelah tubuh terpisah dari jiwa Paduka.
Nikolas      :     (menunjuk Strabo) Diam kau penghasut!
                        (memohon pada Herodes) Baginda jangan kau lakukan itu. Aku memohon demi ibu anak-anak itu.
Herodes     :     Apakah ini mungkin?
Strabo        :     Bukanlah kesempatan yang terakhir paduka.
Herodes     :     (berpikir lama lalu berdiri) Mungkin lebih baik mecoba daripada tidak pernah.
Nikolas      :     (dengan suara keras) Ku mohon yang mulia jangan kau lakukan itu. Jangan baginda.
Herodes     :     Diam kau mulut busuk! Pengawal!
Pengawal   :     Siap yang mulia!
Herodes     :     Bawa dan kurung manusia busuk ini! Panggilkan juga ke sini Panglima Sosius.
                        (pengawal menyeret Nikolas, sementara Nikolas berteriak terus agar Herodes tidak membunuh kedua anak dari istrinya Mariamne, sementara itu situasi gugup dan takut mencekam, tak terkecuali Antipater)
Antipater   :     Maafkan aku ayah. (mencoba menunjukkan ketaksetujuannya pada sikap ayahnya) Apakah tidak lebih baik kalau kecurigaan itu diselidiki terlebih dahulu?
                        (Herodes hanya terdiam; ia sepertinya tidak menanggapi maksud Antipater, baginya usul Strabo sudah sangat memuaskan. Sesaat kemudian Panglima muncul)
Panglima   :     Salam dan hormatku Paduka Raja.
Herodes     :     Pergilah ke Kaisarea di rumah tua kediaman Panglima Perang Romawi, Ventidius. Di sana, ke dua anakku, Aleksander dan Pristrato, sedang menjalani masa liburannya dari sekolah akademi di Roma. Cari dan temukan mereka! Aku hanya tahu kalau kedatanganMu kembali hanya dengan satu kabar bahwa mereka berdua telah dibunuh.
Panglima   :     Baik Paduka. (kemudian ia keluarsementara itu Antipater hanya terdiam, sedikit gusar karena usulnya tak dihiraukan, Verrus dan Pinneroes sedikit gerah dan sepertinya tak ingin ikut campur atas masalah itu; Herodes sendiri terlihat cukup legah)
Verrus       :     Ampun yang mulia. Kalau sekiranya pertempuran itu masih jauh dari kami, baiklah kalau kami berdua (menunjuk Pinerroes) kembali ke tempat kami masing-masing dan menyiapkan peralatan-peralatan tempur.
Herodes     :     Baiklah Sahabatku. Aku berterima kasih atas kunjungan kalian. Dan tentunya aku masih membutuhkan bantuan kalian.
Verrus n    :     Dengan segala Hormat Paduka.  (kemudian  mereka  berdua  meninggal-
Pinneroes         kan panggungdiam sejenak.

Herodes     :     (Berkata pada Antipater)Apakah aku terlihat sangat kejam? (sesekali berbatuk, herodes menunggu jawaban Antipater namun Antipater hanya diam)
                        Apakah dua orang manusia itu menjadi alasan kebencianmu padaku? (Antipater juga masih terdiam)
                        (suara agak keras) Adakah engkau lebih bodoh dari ibumu?
Antipater   :     Hanya kecurigaan yang tak pasti yang pantas disebut bodoh.
Herodes     :     Apakah aku bodoh ketika seluruh negeri mengalami bencana kelaparan, aku menjual emas dan perak untuk memperoleh beras dan lauk untuk keluarga Ibumu?
Antipater   :     Karena mereka mempunyai hak untuk merasakan apa yang mereka miliki, Ayah.
Herodes     :     (marah)Apa katamu!! Kau anggap apa hasil kerja kerasku, hasil perjuangan dan jerih payahku? Apa kau pikir aku seorang pencuri? (nada suara yang tinggi dan keras membuat Herodes berbatuk keras, strabo mencoba membopongnya ke kursi; sementara itu seorang prajurit melapor)
Prajurit      :     Ampun paduka. Di luar ada tiga orang aneh berpakaian seperti para Nujum. Mereka ingin bertemu Paduka.
Herodes     :     Dari manakah mereka berasal?
Prajurit      :     Ampun yang mulia. Kelihatannya mereka berasal dari Timur, daerah sekitar bangsa Partia.
Herodes     :     Persilahkan mereka masuk!
Prajurit      :     Baik yang mulia. (prajurit itu pergi menjemput 3 orang majus lalu membawa mereka ke istana Herodes)
Baltazar dkk    :           Wassalam Tuanku Raja.
Herodes     :     (Berdiri menjemput mereka) Selamat datang di Istanaku, Tuan-Tuan. (gaspar dkk mengambil posisi duduk)
                        Kelihatannya tuan-tuan sedang membutuhkan sesuatu....
Gaspar       :     Maaf Tuanku. Kami datang jauh-jauh dari Timur hendak menemukan seorang raja baru yang lahir di daerah ini.
Herodes     :     (kaget dan tak percaya) Mana mungkin itu terjadi? Dari manakah kamu mengetahui perihal raja baru itu?
Melkior      :     Dalam ’arca gaib’ peta kehidupan kami, tepatnya akhir bulan Tebet, muncul suatu terang yang menyilaukan mata. Terang itu kemudian membakar hangus Rahab, Naga Purbakala penguasa lautan, dan Dagon, Dewa para Filistin bahkan daerah bangsa Skit, bangsa biadap di pesisir laut mati terbakar hancur.jedah. Di dalam terang itu ternyata ada seorang bayi yang dikelilingi ribuan serdadu bersayap naga.
Baltazar     :     Penglihatan kami adalah perjalanan waktu dan sejarah. Karena itulah, kami datang ke Wilayah Tuan untuk menyembah raja baru itu.
Herodes     :     (ekspresi gusar yang sangat pada Strabo, namun ia berusaha menutupinya demi menjaga kesantunan pada para majus) Tuan-tuan harus tahu bahwa tak ada kelahiran yang terjadi dalam keluarga kerajaanku. Kalian juga harus tahu bahwa satu-satunya Raja yang memerintah Israel adalah Herodes Agung. Mana mungkin ada raja yang muncul di luar istanaku?
Melkior      :     Belum pernah ’arca gaib’ menipu kehidupan kami.
Baltazar     :     Bahkan hidup dan mati kami pun ditunjukkannya saat waktunya akan tiba.
Herodes     :     (Herodes semakin tegang, berkata pada Strabo) Apakah artinya semua ini Strabo?
Strabo        :     Ampun paduka yang mulia. Menurut ramalan para nabi akan lahir seorang juruselamat di Kota Daud. Apakah mungkin (bicara terbata-bata, gugup dan takut)  semua ini artinya......
Herodes     :     Apa maksudmu?
Gaspar       :     (menyambar) Maaf tuan. Kami masih membutuhkan waktu untuk mencari. Kalau memang Ia tidak berada dalam dinasti Tuan, barangkali Ia terlahir dari dinasti yang lain.
Baltazar     :     (berdiri, diikut oleh gaspar dan melkior) maafkan kami Tuan. Kamu harus segera menemukannya.
Herodes     :     Baiklah tuan-tuan, selamat meneruskan perjalanan kalian.jedah. Aku juga akan menyembah raja baru itu saat persinggahan kalian berikutnya.
                        (para majus meninggalkan panggung)
                        (berkata pada Strabo) Apakah dia raja para pemberontak?
Strabo        :     Maaf paduka. Banyak nabi yang meramalkan kedatangan seorang Mesias, orang yang diurapi Allah. Ia datang langsung dari Allah dan akan lahir di Kota Daud.
Herodes     :     (marah)Apakah Allahmu adalah satu-satunya yang berkuasa di dunia?
Strabo        :     Barangkali sangat terlambat untuk tidak dipercaya, Paduka.
Herodes     :     (marah, dengan suara keras) Biadap!!! Mengapa engkau membuat aku menyesal untuk kedua kalinya??jedah  Pengawal!!
Pengawal   :     Siap yang mulia.
Herodes     :     tangkap Penipu ini!! (pengawal mengeladah strabo)
Strabo        :     Sabar. Sabar yang mulia. Mimpi anda belum kujawab sempurna.
Herodes     :     Aku muak dengan basa-basimu. Pengawal.....
Antipater   :     (menyambar perkataan Herodes) Sabar Ayah. Penjelasan penting untuk menyelesaikan masalah. (kemarahan Herodes sedikit menurun, lalu duduk di kursinya)
Herodes     :     Apa yang hendak kau jelaskan Strabo?
Strabo        :     Kehancuran bintang yang lebih besar karena tabrakan bintang yang lebih kecil. Kini bintang yang kecil itu telah tiada. Jedah. Namun, ada satu hal yang menyebabkan semua itu terjadi. Satu hal yang sungguh hebat dan dasyat.... itulah gempa buni... itulah angin, badai yang dasyat. Sumber dari semua kehancuran.
Herodes     :     Lalu siapakah bayi itu?
Strabo        :     Dia adalah firman yang telah menjadi daging. Firman itu berasal dari Allah dan mengambil rupa seorang manusia. Firman itu dihidupi oleh Roh, Roh yang berhembus dari dan entah kemana. Roh itu membuat segala sesuatu menjadi hidup. Namun, Roh itu pula yang menghancurkan segala sesuatu yang hidup. Ia menggetarkan seluruh ujung bumi dan meluluh lantakan segala kemegahan dunia. Dialah badai yang dasyat itu.
Herodes     :     Dimanakah pemberontak itu berada?
Strabo        :     Ribuan tahun yang lampau, para nabi telah meramalkan kelahirannya di kota Daud, sebab ia pun berasal dari keturunan Daud.
Herodes     :     Aku berharap ini kali yang terakhir engkau menyelesaikan teka-teki mimpiku. Kesalahan adalah kematianmu(sambil menunjukki muka strabo; sementara itu panglima Sosius Masuk)
Panglima   :     Hormatku Paduka yang mulia.
Herodes     :     Aku tidak menghendaki kegagalan dari padamu.
Panglima   :     Semuanya berjalan sesuai dengan perintah paduka.
Herodes     :     Bagus. Bagus. Aku masih punya satu perintah lagi pada-Mu. Sekarang juga Kau dan Strabo pergi ke Kota Daud, Betlehem, bunuh semua bayi yang berusia di bawah dua tahun.
Antipater   :     (menyambar perkataan Herodes) Jangan ayah. Jangan kau lakukan itu. Biarkanlah ia hidup, nantinya juga kita akan tahu siapa yang melawan Ayah.
Strabo        :     Lebih cepat lebih baik Yang Mulia.
Antipater   :     (suara keras) Jangan kau keluarkan kata-kata itu Strabo!
Herodes     :     (menyambarnya) Simpan saja kata-katamu Nak. Apakah kau mau melihat ayahmu mati dibunuh?
Antipater   :     Aku tidak ingin melihat darah orang yang tidak bersalah dibunuh. Kecuali bagi mereka yang layak mendapatkan hal itu.
Herodes     :     (marah) Apa yang kau maksudkan ini, Antipater!!!
Antipater   :     Aku tidak bersalah terhadap darah bayi itu. Aku menarik diri dari semua ini. (lalu pergi meninggalkan panggung)
Herodes     :     (ketika Antipater menuju ke luar, berteriak dengan suara keras) Hei......Antipater....  Apa yang kau lakukan!! ( Panglima berjalan mengikuti Antipater tetapi Herodes menahannya) Panglima....
Panglima   :     Siap yang mulia (kembali ke posisinya yang semula)
Herodes     :     Sekarang juga pergilah bersama Strabo dan Pasukanmu, Lakukan apa saja yang diperintahkan Strabo kepadamu!!
Panglima   :     Maafkan aku paduka, bagaimana dengan pangeran Antipater.


Herodes     :     (berpikir sejenak) Lakukan apa yang kuperintahkan kepadamu!!
Panglima   :     Baik Paduka (panglima dan Strabo pergi)

Layar ditutup

ADEGAN 4 

PEMBUNUHAN KARENA KELAHIRAN ’FIRMAN’
Latar          : Gua tempat kelahiran Yesus.
Aktor         : Yosef, Maria, 3 orang Majus, 2 orang penduduk dengan 2 orang anak, Strabo,                         Antipater, Panglima dan 2 prajurit.   
                        (Setelah layar dibuka, koor menyanyikan lagu Gita Surya versi inggris; sementara itu di panggung, sudah terdapat Maria. Yosef, dan Yesus yang dibungkus di dalam lampin; Yosef dan Maria menampilkan kehidupan keluarga kecil baru sampai lagu selesai dinyanyikan)
                  Sementara itu juga, para majus datang mempersembahkan hadiah bagi sang Raja baru)                          

Gaspar dkk      :           (menyaapa Yosef) Wassalam Tuan.... (menuju ke tempat Yesus dibaringkanlalu mempersembahkan persembahan mereka, Yosef menatap mereka dengan penuh tanya, sesekali diselingi instrumen Gita Surya)
Yosef        :     Maafkan aku tuan. Kalau boleh saya tahu dari manakah saudara-saudara berasal? Adakah orang yang masih sempat menaruh hati bagi kami setelah kami tidak diperkenankan masuk ke salah satu pun rumah penduduk di sekitar sini?
Baltazar     :     Penglihatan kami adalah sejarah yang pasti sudah dan akan terlewati. Karena itu, kami berjalan bersama waktu dan waktu pulalah yang membimbing kami ke tempat ini.
Melkior      :     (menyambung perkataan Baltazar) Kami tidak dapat menyembah Raja yang belum kami lihat. Seorang Raja yang menguasai seluruh jagat. Seorang raja yang lahir di dalam sebuah terang yang menyilaukan mata para dewa olimpus. Bahkan membakar seluruh tubuh Rahab, naga penjaga lautan.
Gaspar       :     Maafkan kami atas kedatangan kami yang tak terduga saudara. Kami bertiga berasal dari ujung Timur, di daerah di mana orang tidak pernah melihat peperangan dan pembunuhan. Namun, belum pernah lahir bagi kami seorang Raja yang tidak pernah membunuh.
Yosef        :     Tuan-tuan, kami bertiga tidak pernah merasakan persembahan ini sebelumnya. Apakah anak ini mengalahkan kebesaran Kaisar Augustus?
Baltazar     :     Bahkan sebelum matahari memancarkan sinarnya semua makhluk menyatakan kemuliaan-Nya.
Melkior      :     Akhir bulan Tebet adalah awal dari sejarah hidup baru. Sejarah itu mun-cul bersamaan dengan kehadiran bintang yang bercahaya indah. Bias ekornnya masih menyisakan sedikit jejak untuk kami berjalan. Ekor berterbangan indah berarak mengikuti kemana kepalanya pergi.
Baltazar     :     Dan bintang itu berdiam tepat di tempat ini. Cahayannya pun lenyap saat kami hendak memasuki bilik saudara.
Gaspar       :     (berdiri) kami sepenuhnya berterima kasih karena telah melihat dan menyembah raja seluruh jagat. (diikuti oleh kedua sahabatnya) Untuk itu, biarlah kami kembali ke negeri asal kami dengan penuh sukacita.
Gaspar dkk      :           Wassallam....
Yosef        :     Semoga Kasih Yahwe menyertai kalian.
                        (Para majus meninggalkan panggung)
                        (situasi pada waktu malam dengan cahaya yang cukup redup, Yosef mengajak Maria untuk tidur)
Maria         :     Yosef... apakah artinya semua ini?
Yosef        :     Sudahlah Maria..... marilah kita beristirahat. (Yosef mengajak Maria untuk beristirahat - adegan yang cukup lama dengan menggambarkan situasi di mana sepasang suami istri beserta anak yang baru lahirakan beristirahat malam- setelah itu, Yosef bermimpi seorang Malaikat menjumpainya)
Malaikat    :     (lampu sorot dipancarkan ke tubuh Yosef) Yosef anak ........ segeralah engkau bersama Maria berangkat ke Mesir. Sebab Herodes, Raja negeri ini telah menyuruh prajuritnya untuk membunuh bayi yang baru lahir itu.
Yosef        :     (sadar dari mimpinya) Maria... Maria.... Maria.....
Maria         :     Apa yang sedang terjadi padamu Yosef? Bukankah hari sudah sangat larut, mengapa engkau belum tidur juga?
Yosef        :     Sudahlah Maria. Kita harus segera berangkat ke Mesir karena Herodes telah menyuruh panglimannya untuk membunuh anak kita.
Maria         :     (sedikit melawan) Apakah hari esok tidak baik untuk berjalan jauh?
Yosef        :     Alangkah baiknya kalau kita segera berlari sebelum ada yang mengejar.
                        (Yosef dan Maria meninggalkan panggung)
                        (kemudian terdengar suara teriakan anak-anak dan orang dewasa yang sudah berlari sangat jauh, mereka berteriak minta tolong; 2 orang ayah beserta seorang anaknya masing-masing berlari memasuki  panggung, mereka terlihat sangat capai; seorang anak terjatuh saat berlari)
Narus         :     (dengan suara yang gemetar) Anakku....anakku.... (sementara itu anaknya semakin lemah, ia sendiri juga sangat lemah)
Runus        :     (kondisi tubuhnya masih cukup kuat, suara terbata-bata karena kecapaian) Narus.... cepat... ayo cepat sahabatku sebelum mereka membunuh anak kita.
Narus         :     Sudahlah teman. Pergilah. Larilah sejauh mungkin. Aku sudah tak sanggup lagi berjalan apalagi harus berlari. Apalagi anak ini, sudah sangat keletihan.
Runus        :     (menarik dan memaksa Narus untuk berlari, sedangkan anaknya Narus hendak digendongnya) ayolah Nar.....ayo kita harus tetap hidup.
Narus         :     (Melepaskan tangannya) sudahlah Sahabatku pergilah.... larilah sekarang. Biarkan kami saja yang menikmati derita ini. Ayo pergilah....ayolah.... ini mungkin sudah menjadi takdir kami. (Runus dengan berat hati meninggalkan sahabatnya, lalu keluar dari panggung; sesaat kemudian Panglima Sosius beserta dua prajuritnya  dan Strabo masuk)
Panglima   :     Prajurit, tangkap manusia busuk ini! (2 prajurit menangkap narus dan anaknya; sementara itu Strabo melihat-lihat sekeliling, di mana  tempat Yosef, Maria, dan Yesus pernah tinggal, sesekali ia memperhatikan wajah Narus dan terutama anaknya. Strabo terus memperhatikan tempat itu, ia berjalan hampir di setiap sudutnya sampai ia kemudian menemukan sehelai kain putih  yang masih tergeletak di tempat Yesus dibaringkan; sementara itu, panglima dan para prajurit yang sedang menggeledah Narus hanya memperhatikan Strabo, mereka seakan-akan menunggu perintah dari Strabo)
                        (....setelah cukup lama memperhatikan Strabo) Bagaimana Tuan?
Strabo        :     (sambil mencium kain putih –alas pembaringan Yesus-) Di sini ada bau kemenyan dan Mur. Orang-orang Timur itu pasti pernah berada di sini. Lagi pula bau Mur ini sangat khas, terbuat dari narwastu yang tidak mungkin dimiliki sembarang orang. Apalagi orang-orang eseni (sambil menatap Narus dan anaknya)......
Panglima   :     Lalu apa yang harus kita lakukan Tuan? Kalau seandainya mereka melewati Yordan ke Persia bersama orang-orang Timur itu, mereka tentu mati di tangan Aleksander yang menjaga daerah perbatasan.
Strabo        :     (menunjukkan tangannya pada anaknya Narus) Bunuh anak itu! Simpanlah darahnya bagi Paduka? Anggaplah saja darah ini milik raja baru itu.....
Narus         :     (mencegah, memberontak dan berteriak memohon) jangan tuan. Jangan.  Bunuhlah saja aku. Biarkan anakku hidup. (narus bergerak memberontak dan terus memohon, desakannya membuat prajurit geram, karena itu ia ditendang dan dipukul; tetapi desakannya semakin kuat, ia meronta-ronta ingin lepas dari geledah prajurit sampai ia kemudian betul-betul terlepas dan berlari ke arah Strabo, lalu berlutut, bersujud, memegang kaki Strabo dan memohon agar anaknya jangan dibunuh) Tolonglah Tuan. Jangan kau pisahkan raga anakku dari jiwanya (dengan suara yang berat). Kumohon jangan kalian bunuh dia.
Strabo        :     (bererak membelakangi dia) mungkin lebih baik satu orang mati agar yang lain tidak lagi mati..... (lalu berkata dengan suara keras) Panglima. Seret dan bunuh sekalian dengan laki-laki sialan ini! (prajurit mengesah narus dan menyeretnya menjauhi kaki Strabo; sementara itu Narus terus menerus berteriak memohon; teriakannya semakin keras namun tidak dihiraukan Strabosementara itu....dari kejauhan ia melihat seorang pria berkuda mendekati mereka ....
Antipater   :     (bunyi langkah kaki kuda, Strabo menatap jauh, bunyi langkah kuda semakin keras, lalu Antipater masuk) Lepaskan Ayah dan anaknya itu!
Strabo        :     (kaget) Apa yang Anda lakukan di sini Pangeran?
Antipater   :     Lepaskan kataku! Aku tidak ingin darah terkucur deras dari tubuh orang-orang yang telah bersalah. Cukup sekali saja engkau melakukan ini!
Strabo        :     Tetapi ini perintah Ayah Anda Pangeran.
Antipater   :     Aku tidak pernah mendengar engkau tunduk pada perintah. Kecuali pada tipu muslihat. Mengapa Engkau harus membunuh orang yang tak bersalah untuk memusnahkan musuhmu?
Strabo        :     Barangkali kita butuh perundingan pangeran....  (melihat dan berkata pada Panglima) Panglima......
Antipater   :     (Antipater menyambar perkataan Strabo lalu mengeluarkan pedangnya, gagangnya dijulurkan ke arah Strabo) Jangan kau lakukan itu Strabo. Bunuhlah saja aku!!!
                        (diam sejenak... suasana sangat kicut)
Strabo        :     (dengan suara yang pelan, berat, dan lembut) Panglima. Lepaskan kedua orang itu.
Panglima   :     Baik Tuan. (dua prajurit melepaskan Narus dan anaknya)
Strabo        :     (berkata pada Narus) Pergilah jauh-jauh. Sampaikan kepada sanak saudaramu bahwa kematianmu telah digantikan Antipater....
                        (melihat panglima dengan sangat pelan) pulanglah ke istana Herodes. Katakan bahwa aku akan membawa santapan yang berharga bagi dirinya.
Panglima   :     baik Tuan. Prajurit!
Prajurit      :     siap panglima....
Panglima   :     Ayo kita pergi dari tempat ini. (mereka meninggalkan panggungsuasana kemudian lengang, tersisa hanya Strabo dan Antipater)
.............
Antipater   :     (setelah berdiam cukup lama) Apakah kita butuh perundingan lagi Strabo?
Strabo        :     Seperti yang telah kukatakan Pangeran. Perundingan yang mesti lebih pasti kan yang Mulia?
Antipater   :     Mengapa ankaramu menjadi seperti Herodes, Strabo?
Strabo        :     Aku hanya ingin membunuh dia. Sama seperti Tuanku Pangeran.
Antipater   :     Tetapi tidak dengan mengorbankan yang tak berdosa sedikit pun.
Strabo        :     Tentunya demikian pangeran kalau seandainya Herodes tidak bermimpi. Dan Nikolas yang busuk itu tidak menuduh Tuan yang berusaha merencanakan makar.
Antipater   :     (terdiam cukup lama dan menundukkan kepala) mengapa tipu muslihatmu tidak menyerang aku Strabo, tetapi hanya menyerang Ayahku?
Strabo        :     Karena tuan punya kemauan yang sama denganku.
Antipater   :     (menyambar perkatan Strabo) dan hendak menjadikan aku raja menggantikan dia?.... tidak. Tidak Strabo. Seorang raja yang baru tidak akan bertahan pada kekuasaannya karena semua orang-orang istana punya sifat yang sama buruknya dengan Herodes. Kecuali jika kita membunuh mereka semua dan mendirikan kerajaan yang sama sekali baru.jedah. tetapi itu tidak mungkin karena aku tidak ingin mengorbankan darah orang yang tidak bersalah.
Strabo        :     Aku tidak pernah berpikir bahwa tuan akan menjadi Raja. Aku juga tidak punya keinginan untuk itu.
Antipater   :     Lalu apa maumu?
Strabo        :     (bicara agak pelan) Aku hanya ingin darah Herodes terkucur deras seperti yang pernah dia lakukan pada kakakku.
Antipater   :     (sangat kaget) Maksudmu engkau ingin membalas dendam atas kematian kakakmu?
Strabo        :     benar tuanku. Sejak pertama aku berada di rumah tuan, aku banyak belajar tentang Herodes dan sifat-sifatnya. Aku juga berlindung di belakang Kemasyuran Tuan dengan demikian orang-orang kerajaan tidak mengenal siapa aku yang sebenarnya.
Antipater   :     Siapakah dirimu Strabo?
Strabo        :     Aku adalah Yaneus, putra kedua Aristobulus dari wangsa Hasmoni, adik kandung Antigonus yang kepalanya dipenggal Herodes di Antiokhia 32 tahun yang lalu. (diam sejenak, antipater sangat terkejut)
                        Aku diberitakan telah tewas bersama puluhan ribu prajurit Partia dalam peperangan melawan pasukan Romawi pimpinan panglima Ventidius ketika kami sedang berada dalam peristirahatan di pinggir pantai laut mati.... untunglah saat itu aku berhasil melarikan diri dan kembali ke Yerusalem, lalu berlindung di rumah Annoel, yang sekarang menjadi imam besar, pimpinan Sanhedrin. Selama sekitar 5 tahun aku hidup bersama dengan dia sambil mempelajari Taurat; beberapa tahun setelahnya aku diperkenalkan sebagai Strabo, seorang ahli kitab dari Partia kepada ibu pangeran lalu bekerja pada kerajaan Pangeran.
Antipater   :     Lalu apa maumu dariku?
Strabo        :     (tertunduk) Tidak ada lagi Pangeran. Tidak ada lagi.  Mungkin kita tidak butuh perundingan lagi. Dan sekiranya pangeran mengijinkan, biarlah tempat kelahiran raja Yerusalem baru ini menjadi saksi  bahwa penuntut balas itu telah meninggalkan tubuhnya.
Antipater   :     (menempeleng Strabo) Apa katamu?! Apakah engkau biarkan Ayahku terus menerus menakut-nakuti bangsamu dan menindas raja barumu?
Strabo        :     (menuju kesudut depan panggung, lalu duduk bersila membelakangi Antipater) Tidak ada lagi yang tersisa Tuan. Tidak ada lagi. Bangsaku akan terus menerus ditakuti oleh ketakutan mereka sendiri dan Raja baru itu akan terus ditindas dalam penderitaanNya tetapi Ia justru merasa bahagia. Karena itu, aku ingin......
Antipater   :     (Menyambar perkataan Strabo) Jangan! Jangan! Jangan kau lakukan itu. Karena engkau harus kembali kepada Herodes, dan menyuguhkan darah segar raja baru itu kepadanya.
Strabo        :     Tapi itu semua sudah berakhir pangeran. Aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa. Aku sudah terjebak dalam kerakusan Herodes. Tanganku kini telah kotor oleh darah orang-orang yang tidak berdosa.
Antipater   :     (menyambar) Lalu engkau pergi begitu saja dengan membiarkan darah orang yang berdosa itu tetap mengalir dalam tubuhnya?
Strabo        :     Daripada banyak lagi yang harus dikorbankan, pangeran.
Antipater   :     (keduanya terdiam cukup lama, dengan suara agak berat) Tidak ada gunanya lagi penyesalanmu, sahabatku. Tak ada sesuatu pun yang bisa kau bayar untuk menebus dosamu selain melunasi hutang kakakmu.
Strabo        :     Itu sudah berakhir pangeran.
Antipater   :     Tidak strabo. Tidak. Tak ada akhir sebelum yang memulai belum berakhir. Kau pun tahu kalau aku sudah pasti dianggap pemberontak karena tidak ada kata tidak bagi ayah. Jedah. Dan aku puas bisa melawan ayah. Bisa melawan kecongkakannya. Dan....dan..... (diam yang cukup lama, Antipater menuju ke sudut belakang panggung, mengambil kain putih alas pembaringan Yesus  dan berdiri membelakangi Antipater; sesaat kemudian ia menghunus pedangnya dan membunuh diri)
Strabo        :     (terkejut akan apa yang terjadi, ia berlari mendapatkan Antipater) Apa yang Tuanku lakukan? Apa? Mengapa sampai ini terjadi?
Antipater   :     (berbicara terbata-bata, berat) Tetapi bukan darah orang yang tak berdosa Strabo.... Berilah darahku ini untuk santapan Ayah dan... kain putih ini menjadi bukti baginya bahwa raja baru itu telah mati. (lalu mati)
                        (Strabo memeluknya dan memegang erat kain putih yang berlumuran darah itu)
Layar ditutup

ADEGAN 5

AKHIR  SEBUAH PRAHARA

Latar          : Istana Herodes
Aktor         : Herodes, Salome, Strabo, Panglima, seorang Prajurit, dan 2 orang Pengawal. Herodes berada di dalam istana bersama Salome (kakak perempuannya) beserta dua pengawal istana, kondisi fisik Herodes terlihat sangat parah, sakitnya semakin menjadi-jadi.

Herodes     :     (sesekali berbatuk) Kakak, engkau tahu semenjak wilayah Yudea dan seluruh harta karun milik Cleopatra dihadiahkan kepadaku, aku merasa Herodes adalah imperior ulung abad ini (sambil menepuk dada)-(diam sejenak)
                        Sahabatku Kaisar Agustus tentu berbangga atas semua ini...
Salome      :     Wilayah Siria dan Perea serta Nabatea selain seluruh Yudea dan Galilea juga takluk padamu. Barangkali Aleksander Yaneus terlalu licik sampai-sampai membiarkan Nabatea tetap merdeka. Tetapi tidak bagi adikku yang hebat....
Herodes     :     Yaneus adalah raja besar. Wilayah taklukannya juga meluas bahkan sampai di Asia kecil. Namun kebesarannya adalah hasil jerih payah orang lain - buah dari kelicikan Aleksandra, kakak ipar yang dikawininya. Dan ....(sesekali berbatuk) Kelicikan itu rupanya terlalu terlalu bodoh karena ia memberikan kepercayaan yang besar untuk musuh2nya. Jedah. Antigonus akhirnya menjadi imbas dari kebodohan itu. Pintu sejarah pun harus  ditutup sebagai pratanda sejarah panjang kekuasaan Wangsa Hasmoni telah berakhir.
                        (ddiam sejenak, melihat di meja lalu berkata pada Salome) Kakak.... apakah tidak ada anggur yang baik untuk diminum? Bukankah hari ini hari kemenangan kita. Hari peringatan hancurnya dinasti Hasmoni?
Salome      :     Adikku.... Engkau tahu kalau aku sangat menyayangimu. Karena itu, bukankah anggur tidak baik untuk kesehatanmu? (menunjuk ke meja yang telah disiapkan segelas air) Aku siapkan air dari mata air Yordan biar aliran darahmu menjadi lebih segar.
Herodes     :     (marah) Inikah rasa kasihmu??? Apa kau pikir anggur yang bodoh itu akan membunuh diriku?
Salome      :     Maafkan aku adikku. Aku lakukan ini Cuma demi kesehatanmu...
Herodes     :     (suara keras, sesekali berbatuk) Kesehatan katamu!! Apakah penyakitku lebih hebat dari darah pemberontak? (diam sejenak, nada suara sedikit menurun) Kakak.... bukankah air hanya keluar dari tanah mati sedangkan anggur berasal dari pohon yang hidup seperti halnya darah yang keluar dari daging. Aku meminum anggur untuk tubuhku sama seperti meminum darah untuk dagingku. Tanpa darah daging mati begitupun tanpa anggur tubuhku mati. (sesekali berbatuk)
Salome      :     (suara sedikit gugup) Aku mengerti perasaanmu adikku; tetapi aku lebih mengerti dengan akal budimu. Air memang berasal dari tanah yang mati, tetapi tanpa air yang mati maka tak ada darah yang hidup. Air dan darah juga ada dalam daging dimana semuanya akan menjadi tanah karena dari sanalah mereka semua berasal.jedah. tetapi aku hanya ingin menyejuk dahaga budimu yang takan pernah mati.
Herodes     :     (gerah mendengar nasihat Salome) Ah.... sudahlah. Buang saja kata-katamu. (Berkata pada pengawal) Pengawal.....! Suruhlah pelayan bawa anggur yang terbaik bagiku! Aku ingin merayakan Pesta Kemenangan ini!
Pengawal   :     Baik Paduka. (pelayan datang membawa anggur)
Herodes     :     (mengecap anggur.... sesaat kemudian ekspresinya berubah karena anggur yang diminumnya tidak memuaskan hatinya, lalu memukul meja) apakah tidak ada lagi anggur yang terbaik untuk diriku? (berkata pada salome) apakah engkau tidak pernah merasakan kenikmatan dalam istanaku? Jedah. Dan mengapa engkau melakukan ini untukku? mengapa engkau membuat penderitaanku semakin menyakitkan?! (sesekali ia berbatuk, Salome hanya tertunduk diam)...diam sejenak....
                         (nada suara menurun sambil berbatuk) kakak...... engkau tahu kalau sebentar lagi aku akan pergi dari kemasyuranku, pergi dari ketenaranku hingga akhirnya tertinggal sejarah yang kelam. Rakyat-rakyatku tentu berpesta karena kepergianku. Mereka bersorak-sorai karena seorang pembunuh telah pergi jauh, dan sangat jauh.......
Salome      :     (menaruh iba) adikkku, apa yang kau katakan?
Herodes     :     karena itulah aku telah menyuruh panglimaku untuk membuat semua rakyatku berkabung menuju hari kematianku. (sesekali berbatuk) Annoel imam besar itu telah kubunuh. Yudas yang telah lama ditahan di penjara pun demikian. Bahkan hampir setiap orang yang terkemuka di kalangan mereka kubunuh. (sementara itu seorang prajurit berlari masuk)
Prajurit      :     Ampun yang mulia paduka.
Herodes     :     Apa yang hendak kau beritakan?
Prajurit      :     Tuan Strabo hendak bertemu Paduka.
Herodes     :     Bawa dia masuk. (prajurit itu membawa Strabo masuk, Strabo membawa pula dengan kendi berisi darah dan kain putih yang menutupinya)
Strabo        :     (ekspresi wajah yang letih, lesu, dan sayu) Salam hormatku paduka yang mulia.
Herodes     :     (berdiri) selamat datang sahabatku. (Strabo mengambil posisi berdiri)
                        Duduklah Strabo.....
Strabo        :     maaf paduka. Alangkah lebih baiknya aku berdiri di sini karena aku tidak pantas lagi disebut sahabat sebelum aku memberikan darah segar ini kepada Paduka. (ia bergerak ke arah Herodes, dan memberikan kendi berisi darah dan kain putih)...... (herodes menerimanya dan melihat-lihat isi kendi dan kain putih yang berlumuran darah itu).... Kain putih itu adalah bukti bahwa tubuh suci raja baru itu telah dikotori oleh darahnya sendiri.
Herodes     :     Aku sungguh berbangga kepadamu Strabo. (sesekali berbatuk) yah sungguh berbangga..... berbangga dengan ketaatanmu.  Dan berani menentang keinginan tuanmu sendiri.
Strabo        :barangkali itu muncul karena setiap orang punya tujuan hidupnya masing-masing, paduka.
Herodes     :Yah.... yahhh.... karenanya kalau tujuan itu tidak tercapai kita tentunya mati dimangsa kebodohan kita sendiri....jedah..... engkau perlu tahu juga kalau aku tak pernah sekalipun lalai dalam mengejar tujuan itu.Karena itu  aku menjadi raja yang besar, imperior ulung, sahabat Kaisar yang paling ditakuti. (omong dengan congkaknya)
Strabo        :Tetapi saat itu tentu akan berakhir Paduka.
Herodes     :Tidak Strabo. Tidak akan pernah sekalipun itu berakhir. Karena aku pun tidak pernah membiarkan orang lain merasakan kegembiraan di atas kematianku.
Strabo        :Maksud Paduka?
Herodes     :(meminum darah dari kendi) Aku tidak ingin musuh-musuhku tertawa karena aku mati dibunuh. Karena itu, sebbelum mereka memperlihatkan giginya mereka sudah aku binasakan.
Strabo        :     tetapi itu sudah tak ada gunanya lagi Paduka. Semua itu sudah terlambat.
Herodes     :     Tidak ada kata terlambat bagiku Strabo.
Strabo        :     Tidak paduka. Semuanya sudah terlambat. Bahkan sangat terlambat.
Herodes     :     (nada suara yang keras) apa kau pikir sakitku ini akan segera membunuhku?
Strabo        :     Tentu tidak Paduka.
Herodes     :     Seorang pembunuh saja tidak akan tahan di depan wajahku sebab mereka harus memohon agar mereka tidak dibunuh. Masihkah kau bilang aku terlambat?
Strabo        :     tetapi tidak lagi sekarang Paduka. Itu semua sudah terlambat.
Herodes     :     (memukul meja lalu memarahi Strabo) Apakah aku perlu memaksamu untuk tidak mengeluarkan kata-kata itu?
Salome      :     (berusaha menenangkan Herodes) Sudahlah adikku!!!
Herodes     :     (Menyambar perkataan Salome) Ahh..... pergi sana kau perempuan busuk. (berkata pada Strabo dengan suara keras, Strabo hanya tertunduk) Apakah itu keluar dari pikiranmu? Siapa yang menyuruh berkata demikian?
Strabo        :     (suara berat dan pelan) Darah yang diminum Paduka. Ia yang memintaku untuk berkata bahwa Paduka sangat terlambat! Ia terpaksa mengatakan itu karena ia tidak ingin ada darah lain yang harus terkucur dari darah seorang pembunuh. Karena itu, ia menyuruhku untuk mengembalikan darah yang telah mengalir jauh ke hilir kembali ke hulu. Sebab di sanalah ada sumber darah yang keluar dari tanah dan sekarang akan kembali ke tanah.
Herodes     :     (marah) Apa maksudmu manusia tengik?
Strabo        :     Kiranya pertanyaan itu menjadi jawaban atas keterlambatan tuan, paduka.
Herodes     :     Apa kau menentangku?!
Strabo        :     Tak perlu dijelaskan lagi Paduka!
Herodes     :     (menghabiskan darah di dalam kendi) Pengawal!
Pengawal   :     Siap Paduka.
Herodes     :     (dengan suara sangat kerasmenunjukkan ekspresi yang sangat marah,) Tangkap manusia busuk ini! (pengawal menggeledah Strabo, sementara itu Herodes terbatuk, batuk yang keras karena ekspresi gusarnya yang sangat, lalu ia terjatuh ke lantai, salome segera membopongnya ke kursi) (sambil melihat strabo dengan mata sayu dan suara yang berat) Pengawal!!! Bawa dan bunuh penipu itu!! (Lalu Herodes meninggal dlm dekapan Salome)             

EPILOG
                  Vendeta..... Dendam......pembunuhan berdarah....... adalah kisah-kisah tragis masa lalu. Kisah-kisah itu barangkali belum pernah sirna di masa sekarang sehingga hampir pasti akan terus bergejolak dalam bingkai mimpi mendaki masa depan. Karena itu,  sejarah tak pernah berhenti mencatat pembunuhan dan peperangan yang terus menerus bergejolak dalam latar kehidupan kita.
                  Barangkali karena kehadiran dendam... pembunuhan....vendetta..... maka Yesus tak terbunuh di antara kekejaman Herodes...... Ini mungkin hanya secuil jawaban yang tak terlalu sempurna menjawabi pertanyaan besar terdahulu. Namun, sekiranya anda dan saya setuju, alangkah baiknya kalau berhenti sebentar. Baiklah kalau dendam....pembunuhan berdarah....vendetta....itu terkubur jauh dari keinginan dan nafsu kita. Biarlah itu menjadi sms terakhir untuk Logos yang lahir tahun ini.




0 comments:

Post a Comment

tks for your support...

Search