Senja kian merayap merangkul malam. Dia berdiri sedari tadi menatap langit merah. Di matanya ada sejuta kisah yang tlah terajut. Namun sulit dirangkai dalam kata. Semuanya terbersit dalam tanya. Tanya yang senantiasa membawa dunianya mencari jawaban yang tak kunjung ditemukan. Tiga jam lamanya ia menunggu. Menunggu dalam tanya. Menunggu dalam kekosongan. Hingga detik menggelitik detak nadi.
* * *
Minggu lalu, orang tuanya membuang sumpah serapah. Bau kata-kata ibunya sulit disimpan di hati. Begitu menusuk kalbu. Sumpah serapah yang memang pasti tidak tak beralasan. Sejak kehadiran Aldi, hubungan ibu dan dia tidak begitu rukun. Selalu saja ada hal kecil yang menyulut perdebatan.
“Kau putuskan saja dia!! Aku tak sanggup menahan hinaan masyarakat.” Kata akhir yang keluar dari mulut wanita tua berumur 50-an. Suaranya sayup terdengar. Persis saat itu, dia telah berdiri di luar daun pintu rumah. Kaca jendela yang bening memang tak sanggup menghalangi suara wanita tua yang hanya melahirkan sekali di dunia itu sampai di telinganya. Namun suara itu tak dihiraukannya. Wajah anggun dia kelihatan begitu tegar. Tak peduli sedikitpun. Bahkan kaki pun ikut meracik cerita. Perlahan-lahan dia beranjak jauh. Meninggalkan rumah, kamar, dan tempat bermain yang telah dihidupinya sejak 23 tahun lalu.
Di luar rumah, seorang ojek menawarkan jasa angkutan. Dengan satu lambaian tangan, dia pun pergi menjauhi ibunya, menuju blok kristal C.
“Aldinya ada?”“Tau? Mungkin lagi kerja” jawab seorang gadis di kos sebelah. Gadis itu menggelengkan kepalanya memperjelas jawaban.
“Ka Aldi pulangnya tak pasti. Kadang ia sampai sore.” Timpal gadis itu melanjutkan dengan raut wajah yang rada bingung. Memang tidak biasa baginya seorang datang bertamu ke kos itu pada jam segitu. Lebih tidak biasa lagi karena ada seorang wanita muda yang menanyakan Aldi di siang bolong.
“Terima kasih” jawabnya halus. Dia membalikkan badannya ke kos Aldi. Ini memang kali pertama dia mengunjungi kos Aldi. Kali pertama ia bertemu dengan gadis itu. Baru hendak meletakkan bokongnya di kursi depan teras, suara gadis tetangga itu terdengar lagi.
“eh... maaf. Kadang-kadang ka Aldi tidak ke kosnya sampai hampir seminggu bahkan sebulan. Kalau kakak punya urusan penting telpon saja ka Aldi. Tapi maaf, aku tak punya nomor Hpnya.” Begitu gadis semampai itu menjelaskan. Kelihatannya ia begitu care. Namun, tak tahu pasti, ia peduli dengan Aldi atau dengan tamu baru itu. Mendengar kata HP sentak menyadarkan dia. Sebetulnya, selalu dia menelpon tapi tak pernah ada jawaban. Nomor Aldi begitu sibuk. Ingin dia menelepon Aldi berulang-ulang tapi tak kesampaian dia membuatnya. Dia tidak ingin pekerjaan Aldi sibuk gara-gara dia.
Lingkungan baru itu memang tak akrab baginya. Suasananya agak sepi, jauh dari jalanan umum. Di teras meja terdapat tumpukan surat kabar. Aldi rupanya berlangganan surat kabar dan lebih suka membaca di kos daripada di tempat kerja. Maklum kesibukan di tempat kerja pasti cukup menguras tenaga dan pikiran. Waktu senggang yang baik mungkin hanya ada di kos.
“Aldinya belum datang ya kak?” tanya si gadis memecahkan kesunyian di teras kos no 29 itu. “Wah... kok jam segini, kak Aldi belum pulang ya?” seru gadis itu melanjutkan. Baru sadar dia kalau siang telah lewat dan hari mejemput malam. Pukul 18.30 Wita. Kulit wajahnya yang cantik mulai berminyak. Matanya merah kantuk sementara rambutnya mulai kering diterpa angin petang. Hampir 3 jam ia tertidur nyenyak di kursi teras. Namun orang yang ditunggunya belum juga tiba. Dia pun pulang tanpa menitipkan pesan sedikit pun.
Keesokkan harinya, pagi-pagi benar dia meninggalkan rumahnya. Sebelum kuliah, ia mampir ke kos Aldi. namun setibanya di sana, kursi dan surat kabar tidak bergeser sedikitpun. Garden Jendela kos juga tertata seperti sebelumnya. Bahkan lampu teras yang dibukanya kemarin sore masih tetap menyala.
Hari berikut ia pergi lagi. Namun hasilnya nihil. Aldi belum pulang ke kosnya. Hal yang sama ia alami ketika hendak ke kos Aldi. Seminggu berlalu Aldi tetap tak kunjung pulang. Rupanya tidak ada harapan lagi untuk bertemu dengan Aldi.
* * *
Pertemuan yang tak terduga itu berawal tiga bulan lalu. Dia berhempasan dengan seorang lelaki paruh baya bermata coklat. Rapih rambutnya seakan menangkal kesan negatif yang akan tertambat. Lewat tiga sapaan, dua sejoli itu pun bersatu dalam keakraban. Nuansa persahabatan pun mengisi setiap detil pembicaraan mereka.
Sejak saat itu, dia hampir sering berjumpa dengan Aldi terutama di saat-saat yang tak terduga. Entah itu di kantin kampus. Di perpustakaan, di warnet, bahkan di toilet. Semua itu terjadi tanpa ada kesepakatan antara mereka berdua. Perjumpaan yang sering itu lambat laun membuat hati keduanya sama-sama tertarik. Sampai suatu ketika, Aldi mengajak dia makan malam di restoran. Aldi mengungkapkan isi hatinya kepada dia. Saat itu juga persahabatan yang terjalin selama tiga minggu berubah menjadi jalinan kasih.
Kisah kasih dia bersama Aldi sampai juga ke telinga keluarganya. Ibunya sangat gembira mendengar putri tunggalnya sudah berpacaran. Memang sejak ia menyabet gelar dokter, banyak pria di kompleksnya menjadi segan terhadap dia. Jangankan menyapa, senyum saja sangat pelit dia terima dari mantan teman TKK dan SDnya. Padahal, mereka adalah orang-orang yang hidup bersamanya sewaktu kecil.
Apalgi setelah saat ia mengambil studi S2. Banyak lelaki yang segan. Ocehan-ocehan miring seputar belis mahal, S2, dokter, dan putri tunggal yang tak terbayangkan mahalnya membuat banyak lelaki segan berdekatan dengan dia. Padahal, keputusannya mengambil S2 adalah tujuan lain selain agar mampu memperoleh jodoh. Setidaknya di kampus.
Memang benar proyeksinya walaupun tak semulus sutra. Tahun pertama ia sempat terpikat dengan seorang lelaki dari timur. Namun, baru sebulan hubungan mereka putus karena sang lelaki ternyata telah menghamili wanita lain. Awal tahun kedua ia menjalin kasih dengan teman kelas S2nya. Hubungan mereka hanya berumur seminggu. Orangtua dia memaksanya putus setelah mereka tahu kalau pria itu sudah beristri. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Aldi. lelaki yang memikat hatinya. Lelaki yang amat berbeda. Tetapi sayang.... orang tua dia diam-diam sudah menyiapkan jodoh yang cocok untuk dia.
Kisah kasih dia dengan Aldi berjalan seperti kerikil di dalam sepatu keluarganya. Ibunya mati-matian tidak menyetujui hubungan mereka. Ibunya takut kalau anak gadisnya jatuh pada lelaki yang salah. Ibunya takut anak gadis tunggalnya itu dipinang lelaki yang tidak bertanggung jawab. Ibunya takut gadis kesayangannya jatuh ditangan pria yang tidak selevel dengan status sosial keluarganya. Mungkin dengan alasan itulah, ibu dia selalu berusaha mengusir Aldi secara halus saat Aldi hendak bertamu ke rumah dia. Ibu dia bahkan menyerahkan foto Aldi ke penjaga gerbang agar Aldi tak sempat melangkah setapak pun ke rumah dia. Makanya setiap kali Aldi muncul, pria berkulit hitam di gerbang rumah dia selalu mengibuli Aldi. Ada-ada saja alasan mereka; rumah lagi arisan, rumah lagi sepi, rumah lagi sendiri, ibu dan bapak butuh istirahat, ibu dan bapak ke kantor, atau ada meeting penting di rumah. Selalu saja ada alasan. Dari alasan pribadi sampai alasan kantoran. Aldi pasti dikira datang membawa proposal.
* * *
Dua minggu lalu Aldi ke rumah dia lagi. Entah itu kali ke berapa ia bertamu ke rumah dia. Setelah membayar ongkos ojek, penjaga rumah yang dahulu mengusir Aldi menatapnya dengan gusar. Melihat perangai Aldi, si penjaga menjelaskan kalau alamat yang ada di tangan Aldi mungkin salah. Aldi coba mejelaskan. Namun pria kekar itu terus saja mengelak. Untung saja saat itu, dia ada di teras rumah. Dia kemudian mengajak Aldi masuk ke ruang tamu.
Sesaat kemudian, ibu dia muncul dari ruang tengah. Dengan penuh santun, Aldi menyapa wanita tua itu. Tetapi hanya sekejap senyum yang terbersit dari wajah tua itu. Wajahnya putih pucat saat melihat Aldi. Tampak sekali kekesalan di matanya. Kerut dahinya mengirim rasa tidak senangnya terhadap calon suami putri semata wayangnya. Baginya, penampilan Aldi sungguh tidak terurus. Apalagi setelah diketahui Aldi berasal dari kampung di bagian Timur.
“Anak saya dari keluarga terhormat. Kami sudah siapkan jodoh yang pas buatnya!” gerutu ibu dia memecahkan kesunyian.
“tapi bu.... Aku mencintai orang yang aku sukai. Bukan orang yang dijodohkan ibu!” Timpal putrinya.
“Apa kau ingin jatuh lagi dengan orang yang sudah beristri, orang yang tidak jelas status, dan orang miskin yang hanya mencuri harta kita?” jawab ibunya.
Kata-kata itu begitu mengiris hati Aldi. Tanpa pamit ia bergerak ke arah pintu dan bergegas jauh. Dia berlari segera menghampiri Aldi. Dia memeluknya erat, erat sekali. Pelukan itu setidaknya mengucapkan ribuan kata agar Aldi jangan tinggalkan dia.
“Orang tuamu mungkin benar. Engkau harus memperoleh teman hidup yang cocok” kata-kata Aldi keluar terbata-bata dari mulutnya. Tak terasa air mata Aldi jatuh di kedua pipinya. Perlahan-lahan ia melepaskan pelukan dia. Di tangan kanan dia, ia titipkan alamat kosnya. Air mata mengiring suasana senja itu. Air mata dua sejoli yang telah lama menjalin cinta. Alamat kos Aldi satu-satunya sisa harapan Dia.
* * *
Sudah dua minggu, tak ada kabar dari Aldi. Tak ada suara di telepon. Sejak seminggu lalu, juga tak ada bayangan di kos. Rasanya, wajah Aldi mesti dihapuskan.
Kini pria yang dijodohkan ayah dia telah datang. Kehadiran lelaki itu telat tiga jam. Cukup lama dia menunggu. Namun cukup lama pula bagi dia untuk membakar nama Aldi. Selama tiga jam itu ia berusaha menghilangkan memori yang sulit terlupakan. Bayangan kemesrahan bersama Aldi. Selama tiga jam itu perasaannya berkecamuk. Luka di hatinya seakan tak berhenti mengeluarkan darah rindu yang sedih. Selama tiga jam itu, dia berusaha mengubur nama Aldi dengan air matanya. Dia berusaha menjadi dia yang lain.
Sesaat kemudian, dia dijemput ibunya untuk segera ke ruang tamu. “pria yang dijodohkan ayahmu adalah atasan ayah di kantor. Sejak tiga bulan lalu, ia juga menjadi dosen di kampusmu.” Sahut ibunya. Dia tidak mempedulikan sedikit pun ibunya. Ia tetap berjalan dengan wajah masam ke ruang tamu. Ruang yang menyisakan kisah cintanya yang pedih. Dan di ruang tamu itu pula ia berkenalan dengan orang yang dijodohkan ayahnya, orang yang pernah bersamanya merajut kisah pedih dua minggu lalu.*
Sunset, akhir april 2011








0 comments:
Post a Comment
tks for your support...