Your Life Your Way

Friday, September 28, 2012

MENGUBER MUKJIZAT: ANTARA SI PENGEMIS & NOMOR MISTERIUS


Prologue

            Belum sehalaman saya membaca terjemahan roman Das Lied Von Bernadette, karya Franz Werfel, saya sudah terinspirasi.  Inspirasi itu terbersit lantaran sentilan pak Ben Mboi, si penterjemah, mengumbar sebuah pertanyaan misteri. Bahkan, kemisterian itu jauh lebih rasional dari harga sebuah realitas suprarasional. Kemisterian itu berlabuh pada tanya: mukjizat apa yang diperoleh dari roman berbahasa Jerman tersebut?
            Mengingat dan membayangkan sosok Ben Mboi yang menilik suatu mukjizat barangkali bukan suatu panorama luar biasa. Maklum, usia beliau yang sudah 70-an tahun dengan kondisi kesehatan yang kurang fresh lagi, menagih mukjizat tentulah suatu kerinduan mendalam yang wajar. Kerinduan yang sangat itu, hampir persis seperti Werfel yang terjebak di antara tentara Spanyol, Belgia, Polandia, Prancis, Belanda, Czech, dan orang-orang Jerman yang diasingkan. Dia berada dalam kumpulan pengungsi dan serdadu-serdadu yang kalah. Saat itu, kelam penderitaan sangat tergambar dengan simponi kelaparan yang mungkin tak pernah dilukiskan andai ia tak bersinggah di Lourdes. “Nyanyian Bernadeta”, perawan kudus dari Lourdes memberi mukjizat tiada tara bagi dia. Ia bersama istri dan anaknya pun tiba dengan selamat sampai di Amerika. Bagi dia, itulah mukjizat dari St. Bernadette.
Apakah mukjizat itu pun menjumpai sang penterjemah? Apakah mukjizat itu juga menghampiri saya??


Parade Impian di Lorong Slamet Riyadi
        Siapa yang tak ingin mukjizat? Tidak ada satu pun manusia yang menolak jika diberi pertanyaan demikian. Bukan semata karena mukjizat itu adalah sebuah pemberian imanens, melainkan karena kerinduan itu jauh melampaui akal rasional dan metode-metode planning. Makanya, dari pengemis jalanan, pelacur, pecandu narkoba, waria, dan orang-orang miskin termasuk kelompok pengangguran seperti saya tentu sangat mengimpikannya.
          Selasa lalu, saya menggandeng mata untuk sedikit melirik daerah Matraman. Mumpung di situ, ada seorang kerabat yang pernah tinggal di rumah saya di Flores, sekarang lagi nge-kos persis di belakang Gereja St. Yosef. Di halte Slamet Riyadi, sesuai dengan janji, kami bertemu untuk pertama kalinya. Ia kemudian mengajak saya ke kos yang berjarak sekitar 200-an m dari gerbang Yayasan Marsudirini. Mulai dari jalanan besar, terus menuju gang kecil dan terakhir melewati lorong sempit. Di sepanjang gang dan lorong, mudah bagi saya yang masih pure dengan kejahatan merasakan aroma narkoba, seks jalanan, dan terutama kemiskinan. Rumah dan kos berhimpitan sana sini, persis serupa dengan lorong yang gelap dan sempit.  Setibanya di kos, kami pun mengobrol, melepas cenat-cenut serta berbagi cita-cita dan idealisme. Setelah direfleksikan, karyawan di PRJ Kemayoran itu membuat juga saya terkagum. Bagaimana tidak?  Walaupun hanya berijazah SMA, ia mampu membiayai kuliah adiknya di Manggarai, Flores dan membiayai pembangunan rumah orang tuanya di utara Pulau Bunga itu. Padahal, ia sendiri hanya bermukim di kamar kos yang sempit dan panas. Luar biasa!

Parade Pengemis di Lorong Slamet Riyadi
          Siang esok harinya, saya kembali ke Cawang. Sepanjang jalan pulang, suasana kumuh begitu terasa di sudut-sudut kawasan itu. Kepulan asap tembakau membuat aroma udara bertambah sesak dan menggerahkan. Terlebih lagi, di pinggir jalan ada pengemis dengan baju yang compang-camping menunggu sepeser logam dari pengguna jalanan. Sementara anak-anak sekolah sibuk bersenda gurau melepas lelah setelah berjuang dengan buku-buku di sekolah. Di pojok jalanan, tukang ojek  setia menunggu penumpang yang keluar dari busway, angkot, maupun taksi. Sementara itu, suara dentingan piring dari warung-warung kecil sibuk melayani pelanggan. Tak ketinggalan, segerombolan lalat dan nyamuk kecil berkeliaran di sekitar remah-remah nasi dan lauk yang berserakan di depan dan samping warung. Suasana terik tengah hari itu begitu padat dan menggerahkan...
           Sampailah saya pada seorang nenek tua berselubungkan kain merah muda dengan blouse putih lusuh dan kotor. Ia duduk bersimpuh di pinggir terotoar tepat disamping SD Marsudirini. Di depannya, diletakkan sebuah kaleng kosong tempat meniti rejeki – ‘mukjizat’ dari Tuhan. Ketika saya berpapasan dengannya, rasa iba saya muncul sama seperti ketika saya berjumpa dengan pengemis-pengemis lain. Namun, rasa hanya tinggalah rasa, saking teriknya matahari membuat perasaan gerah saya berlalu dan meninggalkannya tanpa pemberian.
        Rasa kesal kemudian datang. Seperti biasa rasa itu pasti datang terlambat. Saya merasa bersalah karena tidak memberikan sesuatu kepada wanita tua itu. Bagi saya, ia berbeda dengan pengemis lain yang berbadan sehat, gemuk, dan setia mendekam di pojok jembatan halte busway Salemba UI. Wanita tua itu justru memilih jalanan yang agak lebar, tempat yang agak sepi dengan pejalan kaki. “Bukankah dia seharusnya berada di depan pagar Marsudirini tempat anak-anak orang kaya bersekolah?” Gumamku dalam hati.  Entahlah, saya merasa begitu simpati dengan pengemis yang satu itu. Mungkin karena sudah terlalu lama saya tak pernah menyumbang sepeser buat pengemis sejak saya memberi segobang buat pengemis di halte Cawang BKN. Ataukah karena wanita tua itu berbeda?

Nomor Telpon tak Bernama
        Pukul 14.27, sebuah panggilan masuk ke handphone saya. Sialnya, bunyi telpon itu tak terdengar karena modus no ring yang saya aktifkan. Baru pada pukul 16.34 saya tahu kalau ada sebuah panggilan tak terjawab. Pikiran sayapun berandai, ini mungkin telpon dari Sius, kerabat saya tadi yang berkos di Matraman, ia mungkin menanyakan posisi saya setelah semalam menginap di kosnya. Kalau pun bukan, ini barangkali nomor telepon dari kantor senayan, setidaknya dari Alwy, seorang staf di kantor om saya. Pasalnya, Om Benny pernah mengajak saya untuk mendampingi beliau pergi ke Flores. Atau mungkin saja ini nomor telepon salah seorang teman saya di UI. Lalu tiba-tiba dahi saya mengkerut takut, jangan-jangan ini nomor telepon dari salah satu media surat kabar yang pernah saya lamar.
        Misteri nomor telepon ini kemudian berlanjut menghiasi pikiran saya. Ingin rasanya seketika itu juga meminta pertolongan pada mbah google, tetapi apesnya, pulsa saya tidak cukup untuk internet. Gadget android saya butuh pulsa minimal Rp 5.005 untuk bisa mengaktifkan paket unlimited sehari. Tanpa cara demikian, pulsa Rp 3.455 saya bisa ludes dalam semenit. Padahal, pulsa sebegitu masih perlu untuk hal-hal yang tak terduga. Yah... mau tak mau, saya harus pulang secepatnya ke Cilangkap agar bisa ngenet gratis via wifi dan mencari tahu ketidaktahuan saya.
        Saya kemudian berangkat meninggalkan apartemen Cawang. Tak lupa, saya selipkan dua peristiwa rosario untuk kesuksesan saya dan keluarga saya. Saya pun meminta bantuan Bunda Maria untuk bisa berpikir positif dan menolong saya dalam kesulitan hidup ini. Setelah kuliah sore di UI, saya langsung cabut ke Cilangkap.
       Tiba Cilangkap, saya segera mengeluarkan gadget saya, menyalin nomor telepon misterius itu dan menempelkannya di jendela mbah google. +622157901023, hrd bisnis.co.id, harian Bisnis Indonesia. Wuah..... Sial... lagi-lagi sial... Penyesalan selalu datang terlambat. Nomor telepon itu ternyata berasal dari HRD harian Bisnis Indonesia. Kemungkinan besar, itu merupakan panggilan untuk mengikuti interview dan seleksi masuk untuk menjadi reporter Bisnis Indonesia. Kurang lebih beberapa minggu lalu, tepat di ujung pengiriman lamaran, berkas saya masuk di meja HRD. Saya juga diperhitungkan tetapi sayangnya saya tidak sempat merespon panggilan. Alhasil, kesempatan untuk bergabung dengan Bisnis Indonesia pun sirna.

Epilogue: Relasi Irasional yang mungkin Suprarasional
           Rasa sesal saya karena tak sempat memberi receh pada wanita tua pengemis jalanan itu hampir sama nilainya dengan nasib sial saya tatkala tak sempat merespon panggilan hrd Bisnis Indonesia. Saya kemudian mencoba menghubung-hubungkan dua realitas ini secara irasional, saya menduga bahwa kekikiran saya untuk bersedekah membuat rejekipun berpaling dari saya. Saya menduga kalau Tuhan sejenak berpaling dari saya seperti saya sejenak berpaling dari si pengemis. Ini sulit dibuktikan secara logika empiris tetapi bagi Tuhan yang suprarasional, ini bukan suatu yang mustahil. Setidaknya ini menjadi pelajaran berharga buat saya. Meskipun demikian, saya punya sebersit kebanggaan, ternyata saya juga diperhitungkan di kota metropolitan ini.
          “Apa yang kalian lakukan untuk saudaraku yang paling hina ini, itu kamu lakukan untuk Aku”, ini sabda Yesus yang selalu mengiangi telinga saya ketika berhadapan dengan pengemis. Namun, orang Jakarta selalu memberi wejangan, kenalilah dulu orangnya sebelum engkau memberi, sebab banyak komplotan pengemis yang membentuk kartel kriminalitas. Lalu bagaimana dengan mukjizat? Menurut saya, dalam bingkai iman, aura irasional kadang mendeteksi si pengemis sebagai Tuhan yang bisa memberikan atau memalingkan mukjizat. Akhirnya, mukjizat juga adalah misteri-hanya Tuhan yang tahu. Sekarang, mukjizat apa yang saya peroleh?? Berharap hal itu kian dekat....

Cilangkap, Jumat, 28 September 2012
Pkl.14.35

0 comments:

Post a Comment

tks for your support...

Search