Prologue
Belum
sehalaman saya membaca terjemahan roman Das
Lied Von Bernadette, karya Franz Werfel, saya sudah terinspirasi. Inspirasi itu terbersit lantaran sentilan pak
Ben Mboi, si penterjemah, mengumbar sebuah pertanyaan misteri. Bahkan, kemisterian
itu jauh lebih rasional dari harga sebuah realitas suprarasional. Kemisterian
itu berlabuh pada tanya: mukjizat apa yang diperoleh dari roman berbahasa
Jerman tersebut?
Mengingat
dan membayangkan sosok Ben Mboi yang menilik suatu mukjizat barangkali bukan
suatu panorama luar biasa. Maklum, usia beliau yang sudah 70-an tahun dengan
kondisi kesehatan yang kurang fresh lagi,
menagih mukjizat tentulah suatu kerinduan mendalam yang wajar. Kerinduan yang
sangat itu, hampir persis seperti Werfel yang terjebak di antara tentara Spanyol,
Belgia, Polandia, Prancis, Belanda, Czech, dan orang-orang Jerman yang
diasingkan. Dia berada dalam kumpulan pengungsi dan serdadu-serdadu yang kalah.
Saat itu, kelam penderitaan sangat tergambar dengan simponi kelaparan yang
mungkin tak pernah dilukiskan andai ia tak bersinggah di Lourdes. “Nyanyian
Bernadeta”, perawan kudus dari Lourdes memberi mukjizat tiada tara bagi dia. Ia
bersama istri dan anaknya pun tiba dengan selamat sampai di Amerika. Bagi dia,
itulah mukjizat dari St. Bernadette.
Apakah
mukjizat itu pun menjumpai sang penterjemah? Apakah mukjizat itu juga
menghampiri saya??
Parade
Impian di Lorong Slamet Riyadi
Siapa yang tak ingin mukjizat? Tidak ada satu pun manusia
yang menolak jika diberi pertanyaan demikian. Bukan semata karena mukjizat itu
adalah sebuah pemberian imanens, melainkan karena kerinduan itu jauh melampaui
akal rasional dan metode-metode planning.
Makanya, dari pengemis jalanan, pelacur, pecandu narkoba, waria, dan
orang-orang miskin termasuk kelompok pengangguran seperti saya tentu sangat
mengimpikannya.
Selasa lalu, saya menggandeng mata untuk sedikit melirik
daerah Matraman. Mumpung di situ, ada
seorang kerabat yang pernah tinggal di rumah saya di Flores, sekarang lagi nge-kos persis di belakang Gereja St.
Yosef. Di halte Slamet Riyadi, sesuai dengan janji, kami bertemu untuk pertama
kalinya. Ia kemudian mengajak saya ke kos yang berjarak sekitar 200-an m dari
gerbang Yayasan Marsudirini. Mulai dari jalanan besar, terus menuju gang kecil
dan terakhir melewati lorong sempit. Di sepanjang gang dan lorong, mudah bagi
saya yang masih pure dengan kejahatan
merasakan aroma narkoba, seks jalanan, dan terutama kemiskinan. Rumah dan kos
berhimpitan sana sini, persis serupa dengan lorong yang gelap dan sempit. Setibanya di kos, kami pun mengobrol, melepas
cenat-cenut serta berbagi cita-cita dan idealisme. Setelah direfleksikan, karyawan
di PRJ Kemayoran itu membuat juga saya terkagum. Bagaimana tidak? Walaupun hanya berijazah SMA, ia mampu membiayai
kuliah adiknya di Manggarai, Flores dan membiayai pembangunan rumah orang
tuanya di utara Pulau Bunga itu. Padahal, ia sendiri hanya bermukim di kamar
kos yang sempit dan panas. Luar biasa!
Parade
Pengemis di Lorong Slamet Riyadi
Siang esok harinya, saya kembali ke Cawang. Sepanjang
jalan pulang, suasana kumuh begitu terasa di sudut-sudut kawasan itu. Kepulan asap
tembakau membuat aroma udara bertambah sesak dan menggerahkan. Terlebih lagi,
di pinggir jalan ada pengemis dengan baju yang compang-camping menunggu sepeser
logam dari pengguna jalanan. Sementara anak-anak sekolah sibuk bersenda gurau
melepas lelah setelah berjuang dengan buku-buku di sekolah. Di pojok jalanan, tukang
ojek setia menunggu penumpang yang
keluar dari busway, angkot, maupun taksi. Sementara itu, suara dentingan piring
dari warung-warung kecil sibuk melayani pelanggan. Tak ketinggalan, segerombolan
lalat dan nyamuk kecil berkeliaran di sekitar remah-remah nasi dan lauk yang
berserakan di depan dan samping warung. Suasana terik tengah hari itu begitu padat
dan menggerahkan...
Sampailah saya pada seorang nenek tua berselubungkan kain
merah muda dengan blouse putih lusuh
dan kotor. Ia duduk bersimpuh di pinggir terotoar tepat disamping SD
Marsudirini. Di depannya, diletakkan sebuah kaleng kosong tempat meniti rejeki –
‘mukjizat’ dari Tuhan. Ketika saya berpapasan dengannya, rasa iba saya muncul sama
seperti ketika saya berjumpa dengan pengemis-pengemis lain. Namun, rasa hanya
tinggalah rasa, saking teriknya
matahari membuat perasaan gerah saya berlalu dan meninggalkannya tanpa
pemberian.
Rasa
kesal kemudian datang. Seperti biasa rasa itu pasti datang terlambat. Saya merasa
bersalah karena tidak memberikan sesuatu kepada wanita tua itu. Bagi saya, ia
berbeda dengan pengemis lain yang berbadan sehat, gemuk, dan setia mendekam di
pojok jembatan halte busway Salemba UI. Wanita tua itu justru memilih jalanan
yang agak lebar, tempat yang agak sepi dengan pejalan kaki. “Bukankah dia
seharusnya berada di depan pagar Marsudirini tempat anak-anak orang kaya
bersekolah?” Gumamku dalam hati. Entahlah, saya merasa begitu simpati dengan
pengemis yang satu itu. Mungkin karena sudah terlalu lama saya tak pernah
menyumbang sepeser buat pengemis sejak saya memberi segobang buat pengemis di
halte Cawang BKN. Ataukah karena wanita tua itu berbeda?
Nomor
Telpon tak Bernama
Pukul 14.27, sebuah panggilan masuk ke handphone saya. Sialnya,
bunyi telpon itu tak terdengar karena modus no
ring yang saya aktifkan. Baru pada pukul 16.34 saya tahu kalau ada sebuah
panggilan tak terjawab. Pikiran sayapun berandai, ini mungkin telpon dari Sius,
kerabat saya tadi yang berkos di Matraman, ia mungkin menanyakan posisi saya
setelah semalam menginap di kosnya. Kalau pun bukan, ini barangkali nomor
telepon dari kantor senayan, setidaknya dari Alwy, seorang staf di kantor om
saya. Pasalnya, Om Benny pernah mengajak saya untuk mendampingi beliau pergi ke
Flores. Atau mungkin saja ini nomor telepon salah seorang teman saya di UI. Lalu
tiba-tiba dahi saya mengkerut takut, jangan-jangan ini nomor telepon dari salah
satu media surat kabar yang pernah saya lamar.
Misteri nomor telepon ini kemudian berlanjut menghiasi
pikiran saya. Ingin rasanya seketika itu juga meminta pertolongan pada mbah
google, tetapi apesnya, pulsa saya
tidak cukup untuk internet. Gadget android saya butuh pulsa minimal Rp 5.005
untuk bisa mengaktifkan paket unlimited sehari.
Tanpa cara demikian, pulsa Rp 3.455 saya bisa ludes dalam semenit. Padahal,
pulsa sebegitu masih perlu untuk hal-hal yang tak terduga. Yah... mau tak mau,
saya harus pulang secepatnya ke Cilangkap agar bisa ngenet gratis via wifi dan mencari tahu ketidaktahuan saya.
Saya
kemudian berangkat meninggalkan apartemen Cawang. Tak lupa, saya selipkan dua
peristiwa rosario untuk kesuksesan saya dan keluarga saya. Saya pun meminta
bantuan Bunda Maria untuk bisa berpikir positif dan menolong saya dalam
kesulitan hidup ini. Setelah kuliah sore di UI, saya langsung cabut ke Cilangkap.
Tiba Cilangkap, saya segera mengeluarkan gadget saya,
menyalin nomor telepon misterius itu dan menempelkannya di jendela mbah google. +622157901023, hrd
bisnis.co.id, harian Bisnis Indonesia. Wuah..... Sial... lagi-lagi sial...
Penyesalan selalu datang terlambat. Nomor telepon itu ternyata berasal dari HRD
harian Bisnis Indonesia. Kemungkinan besar, itu merupakan panggilan untuk
mengikuti interview dan seleksi masuk untuk menjadi reporter Bisnis Indonesia.
Kurang lebih beberapa minggu lalu, tepat di ujung pengiriman lamaran, berkas
saya masuk di meja HRD. Saya juga diperhitungkan tetapi sayangnya saya tidak
sempat merespon panggilan. Alhasil, kesempatan untuk bergabung dengan Bisnis
Indonesia pun sirna.
Epilogue: Relasi
Irasional yang mungkin Suprarasional
Rasa sesal saya karena tak sempat memberi receh pada
wanita tua pengemis jalanan itu hampir sama nilainya dengan nasib sial saya
tatkala tak sempat merespon panggilan hrd Bisnis Indonesia. Saya kemudian
mencoba menghubung-hubungkan dua realitas ini secara irasional, saya menduga
bahwa kekikiran saya untuk bersedekah membuat rejekipun berpaling dari saya.
Saya menduga kalau Tuhan sejenak berpaling dari saya seperti saya sejenak
berpaling dari si pengemis. Ini sulit dibuktikan secara logika empiris tetapi
bagi Tuhan yang suprarasional, ini bukan suatu yang mustahil. Setidaknya ini
menjadi pelajaran berharga buat saya. Meskipun demikian, saya punya sebersit
kebanggaan, ternyata saya juga diperhitungkan di kota metropolitan ini.
“Apa yang kalian lakukan untuk saudaraku yang paling hina
ini, itu kamu lakukan untuk Aku”, ini sabda Yesus yang selalu mengiangi telinga
saya ketika berhadapan dengan pengemis. Namun, orang Jakarta selalu memberi
wejangan, kenalilah dulu orangnya sebelum engkau memberi, sebab banyak
komplotan pengemis yang membentuk kartel kriminalitas. Lalu bagaimana dengan mukjizat?
Menurut saya, dalam bingkai iman, aura irasional kadang mendeteksi si pengemis
sebagai Tuhan yang bisa memberikan atau memalingkan mukjizat. Akhirnya,
mukjizat juga adalah misteri-hanya Tuhan yang tahu. Sekarang, mukjizat apa yang
saya peroleh?? Berharap hal itu kian dekat....
Cilangkap,
Jumat, 28 September 2012
Pkl.14.35







0 comments:
Post a Comment
tks for your support...