Your Life Your Way

KISI-KISI DAN MATERI UKK KELAS XI 2014-2015

KISI-KISI UKK KELAS XI SMA 2014-2015.... SELAMAT BELAJAR, TUHAN MEMBERKATI!

Misteri Suanggi

Pengalaman berhadapan dengan suanggi terjadi sewaktu saya masih berumur 13 tahun. Peristiwa ini terjadi di wilayah saya dan menyerang beberapa keluarga di wilayah kami, termasuk rumah kami. Modus kejadiannya selalu sama. Roh jahat itu menyerang pada waktu malam di saat bulan diselimuti awan sehingga membiarkan bumi dinaungi kegelapan.

BUKU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK 2013 UNTUK SMA;

BUKU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK 2013 UNTUK SMA

DARI SERAYA KECIL MENGINTIP PESONA KOMODO

Mendengar nama komodo, sontak menghentakkan rasa rindu tak terkira agar bisa menjenguknya. Timbul rasa yang sangat agar bisa menyentuhnya atau setidaknya bisa mengambil potret hidup bersamanya. Apalagi sebagai orang Flores, lucu kalau hewan kebanggaannya sendiri belum pernah dikunjungi.

Benarkah Janin Juga Menguap?

Sejak kapan kita pertama kali menguap?? Ada banyak pertanyaan yang muncul tetapi setiap orang tentu yakin kalau ia pernah menguap. Sejalan dengan pertumbuhan, manusia pasti merasa mulai menguap sejak bayi Pokoknya setelah dilahirkan, orang pasti tak luput dari aktus menguap. Lalu apakah manusia menguap sejak bayi?? Belakangan teka-teki baru soal menguap muncul. Sebuat riset ilmiah menemukan bahwa janin pun sudah menguap. Benarkah demikian?

Monday, October 15, 2012

Hampir Rp 10 Miliar Diselundup Nenek 67 Tahun


Nenek Collin Dalam Persidangan di USA
Hampir sekitar 8 tahun, Ms. Colin, 67 Tahun, Bendahara Paroki Katedral New York, memperoleh keuntungan dari jabatan yang dipercayakan Gereja.

Berkarakter tenang, calm, hangat dan bersahaja, wanita tua yang bermukim di Bronx, Barat Laut New York, tak pernah disangka tega menyelundupkan dana Gereja senilai jutaan dollar USA (hampir 10 Miliar rupiah), selama 8 tahun ia bekerja.

Tuesday, October 2, 2012

NOKTAH GELAP DAN TERANG LIBERALISASI PERBANKAN DI INDONESIA



 

Prolog
            “Reduksi ilmiah dan realitas, lalu berkutat hanya pada fenomena”, barangkali ide yang paling fenomenal dari Dari Edmund Huserl.[1] Parade fenomena yang terjadi dalam dunia perbankan, barangkali menemukan konfliknya ketika proses deregulasi/liberalisasi harus bertemu dengan jalan buntu problem ke-fenomena-an. Ada banyak konflik kasat mata yang bisa jadi pertimbangan keputusan hukum, tetapi realitas sejarah dan sokongan abstraksi ilmiah membuat perhitungan di dunia perbankan menjadi sulit. Makanya, revisi terhadap UU Perbankan No 10 Tahun 1998 yang telah lama digagas wakil rakyat belum kelar-kelar juga. Padahal, ketika kasus Century mencuat 2010 silam, salah seorang pimpinan KPK ‘berteriak’ agar revisi UU Perbankan itu secepatnya diadakan.[2] Sayang, sampai kini usaha itu belum kelihatan.
            Ada banyak ketakutan yang muncul dengan liberalisasi perbankan ini. Ketakutan itu terutama muncul karena adanya dominasi asing yang berlebihan dalam kancah perbankan nasional. Sementara di pihak lain, usaha liberalisasi ini setidaknya memberi pasokan sistematisasi perbankan yang lebih fleksibel, sehat, dan visioner dalam membangun perbankan nasional dan terutama membantu perbaikan dan kemakmuran ekonomi nasional.
Konsep liberalisasi menjadi seperti dua sisi mata uang di mana ke dua bagiannya menyampaikan dua potensi yang saling bertolak belakang, positif dan negatif. Liberalisasi membawa untung sekaligus rugi.

Friday, September 28, 2012

MENGUBER MUKJIZAT: ANTARA SI PENGEMIS & NOMOR MISTERIUS


Prologue

            Belum sehalaman saya membaca terjemahan roman Das Lied Von Bernadette, karya Franz Werfel, saya sudah terinspirasi.  Inspirasi itu terbersit lantaran sentilan pak Ben Mboi, si penterjemah, mengumbar sebuah pertanyaan misteri. Bahkan, kemisterian itu jauh lebih rasional dari harga sebuah realitas suprarasional. Kemisterian itu berlabuh pada tanya: mukjizat apa yang diperoleh dari roman berbahasa Jerman tersebut?
            Mengingat dan membayangkan sosok Ben Mboi yang menilik suatu mukjizat barangkali bukan suatu panorama luar biasa. Maklum, usia beliau yang sudah 70-an tahun dengan kondisi kesehatan yang kurang fresh lagi, menagih mukjizat tentulah suatu kerinduan mendalam yang wajar. Kerinduan yang sangat itu, hampir persis seperti Werfel yang terjebak di antara tentara Spanyol, Belgia, Polandia, Prancis, Belanda, Czech, dan orang-orang Jerman yang diasingkan. Dia berada dalam kumpulan pengungsi dan serdadu-serdadu yang kalah. Saat itu, kelam penderitaan sangat tergambar dengan simponi kelaparan yang mungkin tak pernah dilukiskan andai ia tak bersinggah di Lourdes. “Nyanyian Bernadeta”, perawan kudus dari Lourdes memberi mukjizat tiada tara bagi dia. Ia bersama istri dan anaknya pun tiba dengan selamat sampai di Amerika. Bagi dia, itulah mukjizat dari St. Bernadette.
Apakah mukjizat itu pun menjumpai sang penterjemah? Apakah mukjizat itu juga menghampiri saya??

SULITNYA HIDUP DI JAKARTA (Would be changed?)




Temaram lampu Malam Ibu Kota
Prologue
“Merasakan kesulitan tidak semudah merasakan sakit”. Barangkali itu kesan yang akhirnya tertambat dalam pikiran dan perasaanku selama empat bulan lebih menginjakkan kaki di tanah perantauan. Setiap kali hendak berpikir, selalu saja ada seribu satu macam pikiran yang masuk. Pikiran-pikiran itu memecah belah perasaan sehingga akal dan hati hanya mampu merasakan kesulitan. Yah... Sulit hidup di Jakarta, kota metropolitan yang keras ini.

Sunday, June 17, 2012

Dialektika Suanggi


           Pengalaman berhadapan dengan suanggi terjadi sewaktu saya masih berumur  13 tahun. Peristiwa ini terjadi di wilayah saya dan menyerang beberapa keluarga di wilayah kami, termasuk rumah kami. Modus kejadiannya selalu sama. Roh jahat itu menyerang pada waktu malam di saat bulan diselimuti awan sehingga membiarkan bumi dinaungi kegelapan.

Friday, April 20, 2012

Bukan Revolusi Melainkan Persaudaraan: Jawaban atas kritik Ketidakadilan Sosial (Sebuah Refleksi Teologis)



Karya Br. Othmard, SVD

           Karya sastra selalu menyimpan rahasia yang tak terselami. Ia juga menghadirkan sejuta interpretasi karena banyak menyimpan beraneka kisah dan realitas yang menarik. Kisah hidup itu selalu membungkuskan jejak langkah anak-anak manusia. Ia menyentuh rasa dan menilik mata hati untuk menguak tabir terdalam yang tersimpuh rapi pada setiap hirup nafas dan nadi yang berdetak. Lukisan Br. Othmar ini yang paling mengesankan saya. Karena itulah saya memilih memajang lukisan ini dalam tulisan saya.
Bukan revolusi melainkan persaudaraan? Inilah yang mewarnai revolusi seturut jawaban Yesus yang diungkapkan dalam ide Br. Othmar. Apakah sesungguhnya demikian?

Wednesday, April 18, 2012

DIA


       
Senja kian merayap merangkul malam. Dia berdiri sedari tadi menatap langit merah. Di matanya ada sejuta kisah yang tlah terajut. Namun sulit dirangkai dalam kata. Semuanya terbersit dalam tanya. Tanya yang senantiasa membawa dunianya mencari jawaban yang tak kunjung ditemukan. Tiga jam lamanya ia menunggu. Menunggu dalam tanya. Menunggu dalam kekosongan. Hingga detik menggelitik detak nadi.
 

   * * *



        Minggu lalu, orang tuanya membuang sumpah serapah. Bau kata-kata ibunya sulit disimpan di hati. Begitu menusuk kalbu. Sumpah serapah yang memang pasti tidak tak beralasan. Sejak kehadiran Aldi, hubungan ibu dan dia tidak begitu rukun. Selalu saja ada hal kecil yang menyulut perdebatan.
        “Kau putuskan saja dia!! Aku tak sanggup menahan hinaan masyarakat.” Kata akhir yang keluar dari mulut wanita tua berumur 50-an. Suaranya sayup terdengar. Persis saat itu, dia telah berdiri di luar daun pintu rumah. Kaca jendela yang bening memang tak sanggup menghalangi suara wanita tua yang hanya melahirkan sekali di dunia itu sampai di telinganya. Namun suara itu tak dihiraukannya. Wajah anggun dia kelihatan begitu tegar. Tak peduli sedikitpun. Bahkan kaki pun ikut meracik cerita. Perlahan-lahan dia beranjak jauh. Meninggalkan rumah, kamar, dan tempat bermain yang telah dihidupinya sejak 23 tahun lalu.
Di luar rumah, seorang ojek menawarkan jasa angkutan. Dengan satu lambaian tangan, dia pun pergi menjauhi ibunya, menuju blok kristal C.
          “Aldinya ada?”
          “Tau? Mungkin lagi kerja” jawab seorang gadis di kos sebelah. Gadis itu menggelengkan kepalanya    memperjelas jawaban.
         “Ka Aldi pulangnya tak pasti. Kadang ia sampai sore.” Timpal gadis itu melanjutkan dengan raut wajah yang rada  bingung. Memang tidak biasa baginya seorang datang bertamu ke kos itu pada jam segitu. Lebih tidak biasa lagi karena ada seorang wanita muda yang menanyakan Aldi di siang bolong.
          “Terima kasih” jawabnya halus. Dia membalikkan badannya ke kos Aldi. Ini memang kali pertama dia mengunjungi kos Aldi. Kali pertama ia bertemu dengan gadis itu. Baru hendak meletakkan bokongnya di kursi depan teras, suara gadis tetangga itu terdengar lagi.
         “eh... maaf. Kadang-kadang ka Aldi tidak ke kosnya sampai hampir seminggu bahkan sebulan. Kalau kakak punya urusan penting telpon saja ka Aldi. Tapi maaf, aku tak punya nomor Hpnya.” Begitu gadis semampai itu menjelaskan. Kelihatannya ia begitu care. Namun, tak tahu pasti, ia peduli dengan Aldi atau dengan tamu baru itu. Mendengar kata HP sentak menyadarkan dia. Sebetulnya, selalu dia menelpon tapi tak pernah ada jawaban. Nomor Aldi begitu sibuk. Ingin dia menelepon Aldi berulang-ulang tapi tak kesampaian dia membuatnya. Dia tidak ingin pekerjaan Aldi sibuk gara-gara dia.
         Lingkungan baru itu memang tak akrab baginya. Suasananya agak sepi, jauh dari jalanan umum. Di teras meja terdapat tumpukan surat kabar. Aldi rupanya berlangganan surat kabar dan lebih suka membaca di kos daripada di tempat kerja. Maklum kesibukan di tempat kerja pasti cukup menguras tenaga dan pikiran. Waktu senggang yang baik mungkin hanya ada di kos.
          “Aldinya belum datang ya kak?” tanya si gadis memecahkan kesunyian di teras kos no 29 itu. “Wah... kok jam segini, kak Aldi belum pulang ya?” seru gadis itu melanjutkan. Baru sadar dia kalau siang telah lewat dan hari mejemput malam. Pukul 18.30 Wita. Kulit wajahnya yang cantik mulai berminyak. Matanya merah kantuk sementara rambutnya mulai kering diterpa angin petang. Hampir 3 jam ia tertidur nyenyak di kursi teras. Namun orang yang ditunggunya belum juga tiba. Dia pun pulang tanpa menitipkan pesan sedikit pun.
          Keesokkan harinya, pagi-pagi benar dia meninggalkan rumahnya.  Sebelum kuliah, ia mampir ke kos Aldi. namun setibanya di sana, kursi dan surat kabar tidak bergeser sedikitpun. Garden Jendela kos juga tertata seperti sebelumnya. Bahkan lampu teras yang dibukanya kemarin sore masih tetap menyala.
Hari berikut ia pergi lagi. Namun hasilnya nihil. Aldi belum pulang ke kosnya. Hal yang sama ia alami ketika hendak ke kos Aldi. Seminggu  berlalu Aldi tetap tak kunjung pulang. Rupanya tidak ada harapan lagi untuk bertemu dengan Aldi.
* * *



          Pertemuan yang tak terduga itu berawal  tiga bulan lalu. Dia berhempasan dengan seorang lelaki paruh baya bermata coklat. Rapih rambutnya seakan menangkal kesan negatif yang akan tertambat. Lewat tiga sapaan, dua sejoli itu pun bersatu dalam keakraban. Nuansa persahabatan pun mengisi setiap detil pembicaraan mereka.
         Sejak saat itu, dia hampir sering berjumpa dengan Aldi terutama di saat-saat yang tak terduga. Entah itu di kantin kampus. Di perpustakaan, di warnet, bahkan di toilet.  Semua itu terjadi tanpa ada kesepakatan antara mereka berdua. Perjumpaan yang sering itu lambat laun membuat hati keduanya sama-sama tertarik. Sampai suatu ketika, Aldi mengajak dia makan malam di restoran. Aldi mengungkapkan isi hatinya kepada dia. Saat itu juga persahabatan yang terjalin selama tiga minggu berubah menjadi jalinan kasih.
         Kisah kasih dia bersama Aldi sampai juga ke telinga keluarganya. Ibunya sangat gembira mendengar putri tunggalnya sudah berpacaran. Memang sejak ia menyabet gelar dokter, banyak pria di kompleksnya menjadi segan terhadap dia. Jangankan menyapa, senyum saja sangat pelit dia terima dari mantan teman TKK dan SDnya. Padahal, mereka adalah orang-orang yang hidup bersamanya sewaktu kecil.
Apalgi setelah saat ia mengambil studi S2. Banyak lelaki yang segan. Ocehan-ocehan miring seputar belis mahal, S2, dokter, dan putri tunggal yang tak terbayangkan mahalnya membuat banyak lelaki  segan berdekatan dengan dia. Padahal, keputusannya mengambil S2 adalah tujuan lain selain agar mampu memperoleh jodoh. Setidaknya di kampus.
       Memang benar proyeksinya walaupun tak semulus sutra. Tahun pertama ia sempat terpikat dengan seorang lelaki dari timur. Namun, baru sebulan hubungan mereka putus karena sang lelaki ternyata telah menghamili wanita lain. Awal tahun kedua ia menjalin kasih dengan teman kelas S2nya. Hubungan mereka hanya berumur seminggu. Orangtua dia memaksanya putus setelah mereka tahu kalau pria itu sudah beristri. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Aldi. lelaki yang memikat hatinya. Lelaki yang amat berbeda. Tetapi sayang.... orang tua dia diam-diam sudah menyiapkan jodoh yang cocok untuk dia.
        Kisah kasih dia dengan Aldi berjalan seperti kerikil di dalam sepatu keluarganya. Ibunya mati-matian tidak menyetujui hubungan mereka. Ibunya takut kalau anak gadisnya jatuh pada lelaki yang salah. Ibunya takut anak gadis tunggalnya itu dipinang lelaki yang tidak bertanggung jawab. Ibunya takut gadis kesayangannya jatuh ditangan pria yang tidak selevel dengan status sosial keluarganya. Mungkin dengan alasan itulah, ibu dia selalu berusaha mengusir Aldi secara halus saat Aldi hendak bertamu ke rumah dia. Ibu dia bahkan menyerahkan foto Aldi ke penjaga gerbang agar Aldi tak sempat melangkah setapak pun ke rumah dia. Makanya setiap kali Aldi muncul, pria berkulit hitam di gerbang rumah dia selalu mengibuli Aldi. Ada-ada saja alasan mereka; rumah lagi arisan, rumah lagi sepi, rumah lagi sendiri, ibu dan bapak butuh istirahat, ibu dan bapak ke kantor, atau ada meeting penting di rumah. Selalu saja ada alasan. Dari alasan pribadi sampai alasan kantoran. Aldi pasti dikira datang membawa proposal.
* * *
      
        Dua minggu lalu Aldi ke rumah dia lagi. Entah itu kali ke berapa ia bertamu ke rumah dia. Setelah membayar ongkos ojek, penjaga rumah yang dahulu mengusir Aldi menatapnya dengan gusar. Melihat perangai Aldi, si penjaga menjelaskan kalau alamat yang ada di tangan Aldi mungkin salah. Aldi coba mejelaskan. Namun pria kekar itu terus saja mengelak. Untung saja saat itu, dia ada di teras rumah. Dia kemudian mengajak Aldi masuk ke ruang tamu.
          Sesaat kemudian, ibu dia muncul dari ruang tengah.  Dengan penuh santun, Aldi menyapa wanita tua itu. Tetapi hanya sekejap senyum yang terbersit dari wajah tua itu. Wajahnya putih pucat saat melihat Aldi. Tampak sekali kekesalan di matanya. Kerut dahinya mengirim rasa tidak senangnya terhadap calon suami putri semata wayangnya. Baginya, penampilan Aldi sungguh tidak terurus. Apalagi setelah diketahui Aldi berasal dari kampung di bagian Timur.
       “Anak saya dari keluarga terhormat. Kami sudah siapkan jodoh yang pas buatnya!” gerutu ibu dia memecahkan kesunyian.
          “tapi bu.... Aku mencintai orang yang aku sukai. Bukan orang yang dijodohkan ibu!” Timpal putrinya.
        “Apa kau ingin jatuh lagi dengan orang yang sudah beristri, orang yang tidak jelas status, dan orang miskin yang hanya mencuri harta kita?” jawab ibunya.

          Kata-kata itu begitu mengiris hati Aldi. Tanpa pamit ia bergerak ke arah pintu dan bergegas jauh. Dia berlari segera menghampiri Aldi. Dia memeluknya erat, erat sekali. Pelukan itu setidaknya mengucapkan ribuan kata agar Aldi jangan tinggalkan dia.
       “Orang tuamu mungkin benar. Engkau harus memperoleh teman hidup yang cocok” kata-kata Aldi keluar terbata-bata dari mulutnya. Tak terasa air mata Aldi jatuh di kedua pipinya. Perlahan-lahan ia melepaskan pelukan dia. Di tangan kanan dia, ia titipkan alamat kosnya. Air mata mengiring suasana senja itu. Air mata dua sejoli yang telah lama menjalin cinta. Alamat kos Aldi satu-satunya sisa harapan Dia.
* * *

        Sudah dua minggu, tak ada kabar dari Aldi. Tak ada suara di telepon. Sejak seminggu lalu, juga tak ada bayangan di kos. Rasanya, wajah Aldi mesti dihapuskan.
       Kini pria yang dijodohkan ayah dia telah datang. Kehadiran lelaki itu telat tiga jam.  Cukup lama dia menunggu. Namun cukup lama pula bagi dia untuk membakar nama Aldi. Selama tiga jam itu ia berusaha menghilangkan memori yang sulit terlupakan. Bayangan kemesrahan bersama Aldi. Selama tiga jam itu perasaannya berkecamuk. Luka di hatinya seakan tak berhenti mengeluarkan darah rindu yang sedih. Selama tiga jam itu, dia berusaha mengubur nama Aldi dengan air matanya. Dia berusaha menjadi dia yang lain.
       Sesaat kemudian, dia dijemput ibunya untuk segera ke ruang tamu. “pria yang dijodohkan ayahmu adalah atasan ayah di kantor. Sejak tiga bulan lalu, ia juga menjadi dosen di kampusmu.” Sahut ibunya. Dia tidak mempedulikan  sedikit pun ibunya. Ia tetap berjalan dengan wajah masam ke ruang tamu. Ruang yang menyisakan kisah cintanya yang pedih. Dan di ruang tamu itu pula ia berkenalan dengan orang yang dijodohkan ayahnya, orang yang pernah bersamanya merajut kisah pedih dua minggu lalu.*

Sunset, akhir april 2011


Sampai Pagi Menyapa Lagi


Pagi itu datang lagi
menyapa seorang anak menggendong tas kecil
Hari depan terhidup di jinjingnya
Berjalan longgok menelusur jejak berjuta tapak

Kicau burung menyanyi merdu tersenyum merindu
Perutnya lapar terhenyak sakit menggotong moncong
Sudah biasa anak mengisi bekal di pojok kantin sekolah
Gontai jalannya bukan karena tak terbiasa kian kepalang
“karena sudah dari biasa” kata bunda

Pagi menyapa lagi...
Suara merdu begitu pilu bersatu paras ayu
Wewangian parfum dari tubuh menyandu
Terbirit-birit menyepak lantai biru

Oh indahnya kau gadis rupawan juga hartawan
Elok parasmu mana tahan kaca mobil membendung
Terbalut indah gaunmu terjuntai
Kau satu-satunya yang terindah dalam hidupmu

Pagi menyapa pagi ...
Burung hantu mulai luluh begitu pilu
Larut bersiul entah mengapa merunduk sayu
menatap anak menggendong tas memikul kuk
Lugu menyusur jalanan berjuta jejak
Hari depan terhidup di dalamnya

Pagi masih menyapa ...
Burung hantu tak kunjung luluh begitu pilu
Larut bersiul merunduk sayu
Melirik pucat cantiknya ibu
menatap macet jalanan
Sopir dan pejalan kaki berebut jalur tak karuan
Pagi ini tawuran lagi

Pagi tak kunjung pergi...
Pucuk dedaunan layu terlarut duka
Semilir angin sejuk terhenti sejenak
 berhembus luruh terhanyut pilu

.....
Oh kau anak sayang
Sedari tadi berjejak tenang
Mencoba berlangkah mencari aman
malah tenggelam ramainya pagi
sampai tak bertampak di mana lagi

Hai kau ibu malang
Sedari tadi kerut dahi bergeming
Cari jalur di mana lagi
Biar pagi jangan sampai berhenti

Anak sayang ibunya malang
Menggurat kisah di palang tenang
Tak kuasa menahan sabar
Mobil melaju menyerempet pagar

Pagi masih menyapa
Tak terkira nasibnya malang
Tubuh kecil tertindih pagar
Berpeluh debu bersimbah darah
Menggendong tas memikul kuk
Hari depan terkubur di dalamnya.

Nipi, September 2011


Search