Your Life Your Way

Friday, April 20, 2012

Bukan Revolusi Melainkan Persaudaraan: Jawaban atas kritik Ketidakadilan Sosial (Sebuah Refleksi Teologis)



Karya Br. Othmard, SVD

           Karya sastra selalu menyimpan rahasia yang tak terselami. Ia juga menghadirkan sejuta interpretasi karena banyak menyimpan beraneka kisah dan realitas yang menarik. Kisah hidup itu selalu membungkuskan jejak langkah anak-anak manusia. Ia menyentuh rasa dan menilik mata hati untuk menguak tabir terdalam yang tersimpuh rapi pada setiap hirup nafas dan nadi yang berdetak. Lukisan Br. Othmar ini yang paling mengesankan saya. Karena itulah saya memilih memajang lukisan ini dalam tulisan saya.
Bukan revolusi melainkan persaudaraan? Inilah yang mewarnai revolusi seturut jawaban Yesus yang diungkapkan dalam ide Br. Othmar. Apakah sesungguhnya demikian?



Kuas Gender, Lukis Korupsi
          Saya teringat akan seorang teman yang mengajukan pertanyaan pada sesion diskusi saat seminar bertajuk “peran wanita dalam kesetaraan gender” beberapa tahun lalu di Ritapiret. Ia membungkus pertanyaannya dalam sebuah anekdot sederhana: Saat acara penerimaan hadiah sebuah kejuaraan tingkat kabupaten, presenter meminta “ibu bupati” untuk menerimakan hadiah kepada peserta yang menduduki peringkat ke 2; itu dibuat segera setelah giliran bapak bupati. Apakah ini menunjukkan kesetaraan gender?
Pertanyaan yang bagus ini tidak ditanggapi secara baik oleh peserta seminar. Namun, sebagian besar peserta diskusi menganggap hal itu biasa-biasa saja, tidak ada bias dimensi perendahan gender malah itu menunjukkan martabat wanita yang dihormati di kalangan umum. Kehadiran ibu bupati setidaknya menjadi wakil dari kaum perempuan yang memberi apresiasi kepada para peserta lomba.
Saya sendiri cukup terganggu dengan tanggapan mereka. Saya justru melihat ada unsur negatif yang terciut dari ungkapan ‘ibu bupati’, serta ada bias negatif ketika perempuan masuk dalam struktur kebijakan yang bukan miliknya. Ini jutru merangsang lahirnya ketidakadilan gender. Ungkapan ‘ibu bupati’ bisa dianggap ibu itu adalah bupati dan bukan lagi istri dari bupati. Kalau istri bupati telah jadi bupati maka dengan sendirinya ada dua bupati dalam sebuah kabupaten. Dengan begitu, interpretasi lebih lanjut muncul: ibu bupati punya jabatan tersendiri, punya kepentingan sendiri, punya keinginan sendiri, dan tentu akan mempengaruhi bupati untuk memperhatikan dirinya yang punya “status dan jabatan” yang sama. Tak jarang, banyak istri dan perempuan pejabat yang melakukan tindakan korupsi.
Dari antara semua wanita yang dilukiskan Br. Othmar, ada seorang wanita yang terlihat lebih anggun dan berpakaian/berperhiasan mewah. Sementara wanita-wanita lain, terlihat begitu berbeda dengannya. Mereka berpakaian sangat sederhana, bahkan ada yang hanya menutup auratnya dengan sepotong kain. Sangat kelihatan, bagaimana ketimpangan dan ketidakadilan sosial dipampangkan oleh lukisan tersebut. Sebuah lukisan hidup yang sangat nyata, pun saat sekarang. Istri para pejabat sebagian besar bermewah-mewah dengan kekayaan, sementara istri para petani, buruh, pekerja tak tetap menguras peluh demi sesuap nasi. Dalam kerangka seorang pemasak, istri pejabat akan bertanya ‘menu apa hari ini’, semetara wanita yang lain berpikir ‘harus makan apa hari ini’.

Demontrasi, lampiaskan pressure
Belakangan ini, demontrasi melawan korupsi juga berdatangan dari kaum perempuan. Tanggal 3 Oktober 2011, ada 15 orang wanita cantik melakukan demonstrasi di depan gedung KPK, mereka sendiri menolak pemfitnahan atas bandan anggaran DPR. Namun tak ada alasan rasional yang dikemukakan.  Porak poranda ambisi membongkar korupsi, begitu emosional saat meletusnya kasus Century yang mendiskreditkan Sri Mulyani dan Budiono. Laki perempuan turun ke jalanan. Mereka meneriakan keadilan, membawa spanduk eksposisif dan demonstratif, dan melakukan atraksi anarkis dengan membakar gambar kedua pihak tertuduh itu.
       Dalam pelukisan yang cukup atraktif, Br. Othmar mendeskripsikan suatu kisah demonstrasi yang dilakukan oleh ibu-ibu yang dipinggirkan terhadap perempuan yang dituduh sebagai penumpuk kekayaan. Kategori penumpuk kekayaan barangkali terlalu usang kalau disandingkan dengan koruptor. Namun, gambaran Othmar sepintas menggambarkan hal demikian. Saya sendiri cukup sulit membandingkan koruptor dengan penumpuk kekayaan. Seorang koruptor tentunya seorang pencuri. Ia mencuri karena nafsu menguasai atau mungkin saja karena menderita kekurangan (kelihatannya ini sangat jarang terjadi). Korupsi bisa dilakukan oleh siapa saja, entah miskin entah kaya, dari lapisan paling bawah sampai lapisan elit. Sementara itu, penumpukan kekayaan jarang dilakukan orang miskin (namanya juga sudah miskin). Penumpuk kekayaan kebanyakan dibuat oleh orang-orang kaya, bisa dilakukan dengan cara yang tak halal termasuk lewat korupsi. Karena itu, korupsi yang dilakukan oleh orang kaya pasti selalu berbau negatif (suatu tindakan yang in se negatif dan bertujuan buruk). Makanya, ketika tindakan mereka bersentuhan dengan hidup orang banyak, aksi tolak dan pemberontakan pasti bermunculan.
        Pelukisan ihwal pemberontakan yang dibuat oleh br. Othmar sangat menarik. Ia melukiskan para wanita yang mencerca dan memaki wanita kaya. Ada dua sisi yang menarik: pertama, setting masa lampau. Br Otmar menggambarkan pada tangan mereka, terlihat memegang sebongkah batu yang hendak dilemparkan pada si penumpuk harta. Pandangan mereka tertuju langsung pada si pelaku kejahatan. Br. Othmar melukiskan hasrat mereka yang tak tertahankan ingin segera menghakimi wanita penumpuk harta itu. Ini tentu suatu bentuk penghakiman yang ekslusif dan diskriminatif, tetapi tentunya diterima saat itu. Penggambaran ini sangat kental dengan budaya Yahudi. Kedua, setting masa sekarang. Latar ini diwakili oleh ibu-ibu yang menggendong anak-anaknya. Pada tangan mereka, tak ada batu, apalagi senjata. Mereka memegang mangkuk kotor dan menyertakan anak-anak mereka. Pandangan mereka tidak tertuju pada pencuri harta tetapi justru kepada Yesus. Mangkuk kotor dan anak-anak setidaknya menjadi alas untuk menerima uluran tangan dari pihak lain, termasuk dari Tuhan sendiri. Mangkuk sama seperti anak-anak mereka yang karena ketidakadilan sosial harus mengemis demi menjalani tuntutan hidup yang diberikan Tuhan.

Bukan Revolusi Kekerasan, Revolusi Persaudaraan
            Br. Othmar menggagas sebuah ide penolakan terhadap kekerasan dan penghakiman yang diskriminatif. Dalam lukisan, Yesus menolak dan menahan setiap batu yang hendak dilemparkan kepada perempuan pencuri harta. Tangan kiri-Nya merangkul para pemberontak, sementara tangan kanan-Nya diarahkan kepada wanita penumpuk harta. Gambaran Otmar seakan memberi nasihat yang keras kepada wanita pencuri harta untuk meninggalkan sikap individualistisnya. Yesus pun menolak dengan tegas perjuangan dengan kekerasan. Bagi-Nya, kekerasan bukanlah jalan keluar melainkan awal dari kehancuran yang lebih besar.
Sepintas, lukisan Othmar ingin menghubungkan situasi kitab suci dengan situasi sekarang. Ia memadukan dua kenyataan sosial yang berlainan situasi. Namun, melalui dua situasi itu, ada sebuah nilai universal yang ingin dibeberkan, yakni nilai persaudaraan. Nilai persaudaraan ini melampaui sejarah. Karena itu, di tengah kekalutan ekonomi global, nilai persaudaraan tetaplah menjadi tonggak penting yang mesti dijaga dan diperkokoh. Penumpukan harta dan ketidakadilan sosial tak boleh mendiskreditkan persaudaraan. Bela rasa dan tepa selira adalah butir-butir kearifan lokal yang mesti dikembangkan untuk menghindari ketidakadilan sosial yang muncul akibat penumpukan harta ataupun korupsi.

Kata akhir
           Teologi yang sadar konteks bukan sekadar menaruh problem dan masalah pada situasi. Tetapi lebih dari itu, meramu situasi agar harmonis dengan konteks yang ada. Berhadapan dengan situasi sosial dan berbagai tindakan kriminal, teologi mesti campur tangan. Ia bukan menjadi pengadil yang bijaksana tetapi sebagai inspirator kebijaksanaan.   Sebagaimana lukisan tak pernah mati dari interpretasi. Begitupun teologi hendaknya selalu memunculkan tafsiran baru yang berharga, inspiratif, dan menggugah.


0 comments:

Post a Comment

tks for your support...

Search