Pagi itu datang lagi
menyapa seorang anak menggendong tas kecil
Hari depan terhidup di jinjingnya
Berjalan longgok menelusur jejak berjuta tapak
Kicau burung menyanyi merdu tersenyum merindu
Perutnya lapar terhenyak sakit menggotong moncong
Sudah biasa anak mengisi bekal di pojok kantin sekolah
Gontai jalannya bukan karena tak terbiasa kian kepalang
“karena sudah dari biasa” kata bunda
Pagi menyapa lagi...
Suara merdu begitu pilu bersatu paras ayu
Wewangian parfum dari tubuh menyandu
Terbirit-birit menyepak lantai biru
Oh indahnya kau gadis rupawan juga hartawan
Elok parasmu mana tahan kaca mobil membendung
Terbalut indah gaunmu terjuntai
Kau satu-satunya yang terindah dalam hidupmu
Pagi menyapa pagi ...
Burung hantu mulai luluh begitu pilu
Larut bersiul entah mengapa merunduk sayu
menatap anak menggendong tas memikul kuk
Lugu menyusur jalanan berjuta jejak
Hari depan terhidup di dalamnya
Pagi masih menyapa ...
Burung hantu tak kunjung luluh begitu pilu
Larut bersiul merunduk sayu
Melirik pucat cantiknya ibu
menatap macet jalanan
Sopir dan pejalan kaki berebut jalur tak karuan
Pagi ini tawuran lagi
Pagi tak kunjung pergi...
Pucuk dedaunan layu terlarut duka
Semilir angin sejuk terhenti sejenak
berhembus luruh terhanyut pilu
.....
Oh kau anak sayang
Sedari tadi berjejak tenang
Mencoba berlangkah mencari aman
malah tenggelam ramainya pagi
sampai tak bertampak di mana lagi
Hai kau ibu malang
Sedari tadi kerut dahi bergeming
Cari jalur di mana lagi
Biar pagi jangan sampai berhenti
Anak sayang ibunya malang
Menggurat kisah di palang tenang
Tak kuasa menahan sabar
Mobil melaju menyerempet pagar
Pagi masih menyapa
Tak terkira nasibnya malang
Tubuh kecil tertindih pagar
Berpeluh debu bersimbah darah
Menggendong tas memikul kuk
Hari depan terkubur di dalamnya.
Nipi, September 2011







0 comments:
Post a Comment
tks for your support...