Your Life Your Way

Sunday, June 17, 2012

Dialektika Suanggi


           Pengalaman berhadapan dengan suanggi terjadi sewaktu saya masih berumur  13 tahun. Peristiwa ini terjadi di wilayah saya dan menyerang beberapa keluarga di wilayah kami, termasuk rumah kami. Modus kejadiannya selalu sama. Roh jahat itu menyerang pada waktu malam di saat bulan diselimuti awan sehingga membiarkan bumi dinaungi kegelapan.

Saya hanya mengingat kalau pernah suatu malam terjadi peristiwa aneh dan menyeramkan.  Kira-kira pukul 12.00 tengah malam, kakak saya tiba-tiba berteriak begitu histeris. Sesaat kemudian, terdengar hentakan kaki seseorang yang begitu cepat diikuti suara krecek dedaunan. Ia pasti baru saja melemparkan sepotong kayu (pikirku dalam hati). Dan seisi rumah pun mendadak terbangun.
Ketika coba ditanya, kakak yang tadinya berteriak sangat histeris menceritakan bahwa selama kurang lebih sejam ia tak bisa tidur, seluruh badannya tak bisa digerakkan, bahkan pikirannya (fantasi) yang sebetulnya masih tersadar berjalan tak karuan (orang Manggarai biasa menyebut gejala semacam ini dengan renep). Ia merasa saat itu dirinya seperti dicengkeram oleh orang lain.
Tak kehabisan akal, kakak berusah berteriak. Seturut dia, itu adalah satu cara untuk mengembalikan kesadarannya. Dan sewaktu terjaga, dia melihat seekor anjing buas berbadan besar berbulu hitam lebat, merunduk tepat di samping kepalanya. Begitu melihat kakak terjaga, anjing itu  segera berlari keluar. Teman yang berada di sampingnya berusaha mengejar namun seketika itu juga anjing itu menghilang. Ia kemudian mengambil sepotong kayu, lalu dilemparkan ke arah anjing itu berlari.
Kesokan harinya timbul perbincangan yang hangat seputar peristiwa itu. Banyak dari antara warga setempat menyebutnya suanggi. Timbul isu dengan keyakinan yang cukup kuat bahwa suanggi itu adalah jelmaan dari seorang bapak yang sudah cukup tua. Ia bermaksud menyerang seseorang dari antara keluarga kami. Jika salah satu dari antara kami meninggal, maka usia hidup bapak tua itu akan bertambah.
Seingat saya, kejadian ini dianggap biasa terjadi. Tak ada bukti yang otentik untuk menjustifikasi bahwa bapak tua itulah si suanggi. Masyarakat menerima hal ini (taking for granted) begitu saja. Banyak kalangan menganggapnya lumrah. Bahkan, sepertinya ada afirmasi atas “pembunuhan yang seolah-olah dilegalkan”.
Menariknya, orang-orang di wilayah kami menerima kejadian itu dengan sikap yang relatif tenang. Tak ada serangan balasan. Apalagi pengerahan massa untuk membunuh pihak tertuduh. Namun, itu tidak berarti mereka tinggal pasif. Dengan caranya masing-masing, tiap keluarga meningkatkan pengawasan yang defensif, entah berbau magis ataupun dengan berbau spiritual kristen. Satu-satunya kepastian yang menguatkan mereka (keyakinan yang sulit dimengerti), yakni jika jelmaan manusia itu kembali datang, roh jahat itu cukup dipukul sekali saja. Ia tidak boleh dipukul berkali-kali. Pandangan unik itu percaya jika hanya dengan memukul satu kali, si tuan suanggi pasti akan menerima sendiri roh kematian yang sedang dikirimnya. Kalau dipukul lebih dari sekali, maka tuan rumah yang dikunjungi suanggi itu yang menderita musibah kematian.  

Suanggi: arti dan asal
            Sesungguhnya ada begitu banyak pandangan dan nama tentang suanggi. Pater Kirch menganggap suanggi sebagai manusia atau semacam manusia yang berkekuatan gaib atau jahat.[1] Wilken, seperti dikutip Beekman, menyebut suanggi dengan suwangi atau swangi untuk menjelaskan tentang seorang perempuan berkekuatan magis atau semacam hantu yang berhati dengki. Dalam pengembaraannya di Maluku dan Halmahera, hantu ini sering beraksi pada saat malam dengan wajah seram dan kepala yang bersayap hendak mencari korban.[2] Orang Manggarai sendiri memakai kata suanggi untuk membedakannya dari poti (iblis/roh jahat). Mereka bisa merasuki siapa saja, tanpa pandang buluh. Korban yang dijangkiti akan meninggal dengan cara-cara yang kadang kala tidak masuk akal. Ada yang sakit tanpa penyakit yang jelas. Ada pula yang mengalami gangguan jiwa, depresi, hingga akhirnya meninggal dalam situasi yang tak wajar.
            Tidak cukup banyak data yang saya capai untuk mencari tahu asal muasal suanggi. Namun setidaknya, term ini masih berhubungan erat dengan iblis dan roh jahat. Suanggi barangkali lebih dihubungkan dengan seorang tukang sihir (witch atau sorcerer).[3] Bisa dikatakan, setan yang bersekutu dengan manusia. Roh jelmaan itulah yang belakangan dianggap sebagai suanggi. Itu berarti, istilah suanggi sendiri mesti dilepaspisahkan dari istilah setan atau roh jahat; walaupun pada dasarnya cara kerja roh jahat tak bisa dilepaspisahkan dari manusia.


Kepercayaan akan Suanggi vs Kepercayaan Kristen
            Percayakah orang akan setan dan roh jahat? Percayakah mereka pada suanggi?
            Kalau dipandang secara sepintas, kelihatannya orang kristen percaya akan adanya roh jahat atau pun suanggi. Dalam perjanjian baru misalnya, ada kepercayaan tentang diabolos yang berbeda dari satanas (biasa diterjemahkan dengan iblis). Satanas dianggap sebagai malaikat kegelapan yang jatuh ke bumi. Gugatan satanas biasanya langsung menggerogoti manusia.[4] Saya sendiri beranggapan bahwa suanggi barangkali salah satu dari satanas. Melalui persekutuan dengan manusia, suanggi dapat berubah wujud menjadi hewan, manusia dengan wajah lain, ataupun mengambil bentuk wajah yang paling menyenangkan. Namun, saya jarang mendengar suanggi yang mengambil bentuk wajah tuannya.
Dari kisah yang saya utarakan, sepertinya sangat gamblang ditunjukkan perihal kepercayaan akan daya kekuatan suanggi yang mampu membunuh kehidupan seseorang. Bahkan mungkin banyak orang Manggarai yang masih percaya akan kekuatan itu. Mereka yakin bahwa suanggi merupakan jelmaan seseorang yang beriktiar jahat ingin membunuh sesamanya demi memuaskan keinginannya atau dengan tujuan balas dendam. 
Menarik jika ditelusuri tindakan defensif yang coba dibangun pihak yang akan menjadi korban. Tak ada usaha untuk menyerang pihak tertuduh tetapi ada sebuah usaha defensif yang nilainya juga sama dengan ‘pembunuhan ilegal yang sangat halus’. Kepercayaan mistis magis ini kelihatannya sangat kuat, bahkan menjadi kepercayaan dasar yang sulit diprediksi entah kapan akan sirna.

Kecurigaan sebagai akar dosa
            Akar dari keberdosaan bukan terletak pada ignorantia atau juga ketidak tahuan kita akan hal baik tetapi terutama karena kecurigaan terhadap Allah. Menuerut Pater Kirch, kesulitan inti yang menjadi akar dari keberdosaan yang merusakkan adalah kecurigaan akan Allah.[5] Kecurigaan itu berawal dari mitos penciptaan dunia pada awal kehidupan. Manusia yang diciptakan Allah melarikan diri jauh dari Allah dan memunculkan kecurigaan-kecurigaan akan Allah. Allah yang dipandang sebagai penjamin kehidupan, belakangan ditakuti sebagai Allah yang justru mengambil kehidupan, menagih janji, dan menuntut pertanggungjawaban.
            Imbas sosial dari kecurigaan akan Allah adalah kecurigaan akan sesama. Manusia tidak percaya lagi pada manusia lain. Mereka saling mencurigai. Tak ada kebenaran yang dapat dipandang sebagai sebuah nilai penting yang mesti ditanamkan oleh kedua belah pihak. Tak jarang, orang pun saling bertentangan, saling menuduh, dan saling menjatuhkan. Persoalan tentang kehadiran suanggi, entah sebagai objek maupun subjek, kelihatannya begitu dekat dengan persoalan kecurigaan ini. Siapa yang salah? Suanggi atau manusia?
            Dalam diskusi lanjut perihal masalah suanggi yang menyerang beberapa keluarga di lingkungan kami, saya sempat mendengar diskusi bahwa setiap orang yang diserang masih memiliki hubungan ketergantungan dengan orang yang tertuduh. Dalam konteks ini, keluarga kami sendiri sebetulnya punya masalah tersendiri dengan pihak tertuduh. Pasalnya, orang tua saya yang selama ini meminjamkan babi kepada mereka, karena kebutuhan mendesak suatu waktu mendatangi rumah dan berkeinginan mengambil babi tersebut (dengan sistem pembagian hasil yang sudah disepakati). Barangkali, ada persoalan yang terjadi saat itu. Seturutku, kecurigaan yang tak benar akan keluarga kami dan mungkin ditambah rasa jengkel, membuat pihak tertuduh menyerang keluarga kami.

Kata Akhir : Allah menggugat diri kita
            Teologi Kristen tentu tidak serta merta menyepelehkan persoalan suanggi. Bagaimana pun, segala bentuk fenomen kepercayaan yang seringkali berkembang menjadi keresahan dalam masyarakat adalah titik penting yang mesti dikaji dan ditelusuri secara teologis. Suanggi lahir dari fenomena kecurigaan. Suanggi merupakan anak dari kebenaran yang dimanipulasi. Oleh sebab itu, kebenaran yang sesungguhnya mesti ditegakkan.
            Allah menggugat moral kita. Bukan karena moral baik dan bertindak seturut kehendak Allah maka kita diselamatkan, melainkan terutama karena Allah yang berinisiatif untuk mengangkat kita secara baru, untuk hidup benar dalam kehendaknya.


[1] Georg Kirchberger, Allah Menggugat: Sebuah Dogmatik Kristiani (Maumere: Ledalero, 2007), p. 335.
[2] E. M. Beekman, Beb Vuyk, H. J. Friedericy,  Two tales of the East Indies (USA: The University of Massachusetts Press, 1983), p. 181.
[3] Bandingkan arti suanggi dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Suangi
[4] Stefanus Pranjana, Setan Menurut Orang Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 2005), p. 53.
[5] Georg Kirchberger, “Kebenaran Inti Agama Kristen”, dalam Frans Ceunfin dan Feliks Baghi, Mengabdi Kebenaran (Maumere: Ledalero, 2005), p. 288. 

1 comments:

tks for your support...

Search