Pengalaman berhadapan dengan suanggi
terjadi sewaktu saya masih berumur 13
tahun. Peristiwa ini terjadi di wilayah saya dan menyerang beberapa keluarga di
wilayah kami, termasuk rumah kami. Modus kejadiannya selalu sama. Roh jahat itu
menyerang pada waktu malam di saat bulan diselimuti awan sehingga membiarkan
bumi dinaungi kegelapan.
Saya hanya mengingat kalau pernah suatu malam terjadi peristiwa aneh dan menyeramkan. Kira-kira pukul 12.00 tengah malam, kakak saya tiba-tiba berteriak begitu histeris. Sesaat kemudian, terdengar hentakan kaki seseorang yang begitu cepat diikuti suara krecek dedaunan. Ia pasti baru saja melemparkan sepotong kayu (pikirku dalam hati). Dan seisi rumah pun mendadak terbangun.
Ketika coba ditanya,
kakak yang tadinya berteriak sangat histeris menceritakan bahwa selama kurang
lebih sejam ia tak bisa tidur, seluruh badannya tak bisa digerakkan, bahkan
pikirannya (fantasi) yang sebetulnya masih tersadar berjalan tak karuan (orang
Manggarai biasa menyebut gejala semacam ini dengan renep). Ia merasa saat itu dirinya seperti dicengkeram oleh orang
lain.
Tak kehabisan akal,
kakak berusah berteriak. Seturut dia, itu adalah satu cara untuk mengembalikan
kesadarannya. Dan sewaktu terjaga, dia melihat seekor anjing buas berbadan
besar berbulu hitam lebat, merunduk tepat di samping kepalanya. Begitu melihat
kakak terjaga, anjing itu segera berlari
keluar. Teman yang berada di sampingnya berusaha mengejar namun seketika itu
juga anjing itu menghilang. Ia kemudian mengambil sepotong kayu, lalu
dilemparkan ke arah anjing itu berlari.
Kesokan harinya timbul
perbincangan yang hangat seputar peristiwa itu. Banyak dari antara warga
setempat menyebutnya suanggi. Timbul
isu dengan keyakinan yang cukup kuat bahwa
suanggi itu adalah jelmaan dari seorang bapak yang sudah cukup tua. Ia bermaksud
menyerang seseorang dari antara keluarga kami. Jika salah satu dari antara kami
meninggal, maka usia hidup bapak tua itu akan bertambah.
Seingat saya, kejadian
ini dianggap biasa terjadi. Tak ada bukti yang otentik untuk menjustifikasi
bahwa bapak tua itulah si suanggi. Masyarakat menerima hal ini (taking for granted) begitu saja. Banyak
kalangan menganggapnya lumrah. Bahkan, sepertinya ada afirmasi atas “pembunuhan
yang seolah-olah dilegalkan”.
Menariknya, orang-orang
di wilayah kami menerima kejadian itu dengan sikap yang relatif tenang. Tak ada
serangan balasan. Apalagi pengerahan massa untuk membunuh pihak tertuduh.
Namun, itu tidak berarti mereka tinggal pasif. Dengan caranya masing-masing, tiap
keluarga meningkatkan pengawasan yang defensif, entah berbau magis ataupun
dengan berbau spiritual kristen. Satu-satunya kepastian yang menguatkan mereka
(keyakinan yang sulit dimengerti), yakni jika jelmaan manusia itu kembali
datang, roh jahat itu cukup dipukul sekali saja. Ia tidak boleh dipukul berkali-kali.
Pandangan unik itu percaya jika hanya dengan memukul satu kali, si tuan suanggi
pasti akan menerima sendiri roh kematian yang sedang dikirimnya. Kalau dipukul
lebih dari sekali, maka tuan rumah yang dikunjungi suanggi itu yang menderita
musibah kematian.
Suanggi:
arti dan asal
Sesungguhnya ada
begitu banyak pandangan dan nama tentang suanggi. Pater Kirch menganggap suanggi
sebagai manusia atau semacam manusia yang berkekuatan gaib atau jahat.[1] Wilken,
seperti dikutip Beekman, menyebut suanggi dengan suwangi atau swangi untuk
menjelaskan tentang seorang perempuan berkekuatan magis atau semacam hantu yang
berhati dengki. Dalam pengembaraannya di Maluku dan Halmahera, hantu ini sering
beraksi pada saat malam dengan wajah seram dan kepala yang bersayap hendak
mencari korban.[2]
Orang Manggarai sendiri memakai kata suanggi untuk membedakannya dari poti (iblis/roh jahat). Mereka bisa
merasuki siapa saja, tanpa pandang buluh. Korban yang dijangkiti akan meninggal
dengan cara-cara yang kadang kala tidak masuk akal. Ada yang sakit tanpa
penyakit yang jelas. Ada pula yang mengalami gangguan jiwa, depresi, hingga
akhirnya meninggal dalam situasi yang tak wajar.
Tidak
cukup banyak data yang saya capai untuk mencari tahu asal muasal suanggi. Namun
setidaknya, term ini masih berhubungan erat dengan iblis dan roh jahat. Suanggi
barangkali lebih dihubungkan dengan seorang tukang sihir (witch atau sorcerer).[3]
Bisa dikatakan, setan yang bersekutu dengan manusia. Roh jelmaan itulah yang
belakangan dianggap sebagai suanggi. Itu berarti, istilah suanggi sendiri mesti
dilepaspisahkan dari istilah setan atau roh jahat; walaupun pada dasarnya cara
kerja roh jahat tak bisa dilepaspisahkan dari manusia.
Kepercayaan
akan Suanggi vs Kepercayaan Kristen
Percayakah
orang akan setan dan roh jahat? Percayakah mereka pada suanggi?
Kalau
dipandang secara sepintas, kelihatannya orang kristen percaya akan adanya roh
jahat atau pun suanggi. Dalam perjanjian baru misalnya, ada kepercayaan tentang
diabolos yang berbeda dari satanas (biasa diterjemahkan dengan
iblis). Satanas dianggap sebagai
malaikat kegelapan yang jatuh ke bumi. Gugatan satanas biasanya langsung menggerogoti manusia.[4]
Saya sendiri beranggapan bahwa suanggi barangkali salah satu dari satanas. Melalui persekutuan dengan
manusia, suanggi dapat berubah wujud menjadi hewan, manusia dengan wajah lain,
ataupun mengambil bentuk wajah yang paling menyenangkan. Namun, saya jarang
mendengar suanggi yang mengambil bentuk wajah tuannya.
Dari kisah yang saya
utarakan, sepertinya sangat gamblang ditunjukkan perihal kepercayaan akan daya
kekuatan suanggi yang mampu membunuh kehidupan seseorang. Bahkan mungkin banyak
orang Manggarai yang masih percaya akan kekuatan itu. Mereka yakin bahwa
suanggi merupakan jelmaan seseorang yang beriktiar jahat ingin membunuh
sesamanya demi memuaskan keinginannya atau dengan tujuan balas dendam.
Menarik jika ditelusuri
tindakan defensif yang coba dibangun pihak yang akan menjadi korban. Tak ada
usaha untuk menyerang pihak tertuduh tetapi ada sebuah usaha defensif yang
nilainya juga sama dengan ‘pembunuhan ilegal yang sangat halus’. Kepercayaan
mistis magis ini kelihatannya sangat kuat, bahkan menjadi kepercayaan dasar
yang sulit diprediksi entah kapan akan sirna.
Kecurigaan
sebagai akar dosa
Akar
dari keberdosaan bukan terletak pada ignorantia
atau juga ketidak tahuan kita akan hal baik tetapi terutama karena
kecurigaan terhadap Allah. Menuerut Pater Kirch, kesulitan inti yang menjadi
akar dari keberdosaan yang merusakkan adalah kecurigaan akan Allah.[5] Kecurigaan
itu berawal dari mitos penciptaan dunia pada awal kehidupan. Manusia yang
diciptakan Allah melarikan diri jauh dari Allah dan memunculkan
kecurigaan-kecurigaan akan Allah. Allah yang dipandang sebagai penjamin
kehidupan, belakangan ditakuti sebagai Allah yang justru mengambil kehidupan,
menagih janji, dan menuntut pertanggungjawaban.
Imbas
sosial dari kecurigaan akan Allah adalah kecurigaan akan sesama. Manusia tidak
percaya lagi pada manusia lain. Mereka saling mencurigai. Tak ada kebenaran
yang dapat dipandang sebagai sebuah nilai penting yang mesti ditanamkan oleh
kedua belah pihak. Tak jarang, orang pun saling bertentangan, saling menuduh,
dan saling menjatuhkan. Persoalan tentang kehadiran suanggi, entah sebagai
objek maupun subjek, kelihatannya begitu dekat dengan persoalan kecurigaan ini.
Siapa yang salah? Suanggi atau manusia?
Dalam
diskusi lanjut perihal masalah suanggi yang menyerang beberapa keluarga di
lingkungan kami, saya sempat mendengar diskusi bahwa setiap orang yang diserang
masih memiliki hubungan ketergantungan dengan orang yang tertuduh. Dalam
konteks ini, keluarga kami sendiri sebetulnya punya masalah tersendiri dengan
pihak tertuduh. Pasalnya, orang tua saya yang selama ini meminjamkan babi
kepada mereka, karena kebutuhan mendesak suatu waktu mendatangi rumah dan berkeinginan
mengambil babi tersebut (dengan sistem pembagian hasil yang sudah disepakati).
Barangkali, ada persoalan yang terjadi saat itu. Seturutku, kecurigaan yang tak
benar akan keluarga kami dan mungkin ditambah rasa jengkel, membuat pihak
tertuduh menyerang keluarga kami.
Kata
Akhir : Allah menggugat diri kita
Teologi
Kristen tentu tidak serta merta menyepelehkan persoalan suanggi. Bagaimana pun,
segala bentuk fenomen kepercayaan yang seringkali berkembang menjadi keresahan
dalam masyarakat adalah titik penting yang mesti dikaji dan ditelusuri secara
teologis. Suanggi lahir dari fenomena kecurigaan. Suanggi merupakan anak dari
kebenaran yang dimanipulasi. Oleh sebab itu, kebenaran yang sesungguhnya mesti
ditegakkan.
Allah
menggugat moral kita. Bukan karena moral baik dan bertindak seturut kehendak
Allah maka kita diselamatkan, melainkan terutama karena Allah yang berinisiatif
untuk mengangkat kita secara baru, untuk hidup benar dalam kehendaknya.
[1]
Georg Kirchberger, Allah Menggugat:
Sebuah Dogmatik Kristiani (Maumere: Ledalero, 2007), p. 335.
[2]
E. M. Beekman, Beb Vuyk, H. J. Friedericy, Two
tales of the East Indies (USA: The University of Massachusetts Press,
1983), p. 181.
[3]
Bandingkan arti suanggi dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Suangi
[4]
Stefanus Pranjana, Setan Menurut Orang
Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 2005), p. 53.
[5]
Georg Kirchberger, “Kebenaran Inti Agama Kristen”, dalam Frans Ceunfin dan
Feliks Baghi, Mengabdi Kebenaran
(Maumere: Ledalero, 2005), p. 288.








nice info gan !! keren artikelnya bermanfaat, Recomended pokoknya ! cepat jaya gan !!
ReplyDelete| Informasi Unik Aneh dan Menarik | Informasi Baru | Sejarah | Fantastik | Gaya Hidup | Wisata | Misteri | Unik dan Menarik | Aneh dan Konyol | Tips Bermanfaat | Event Harusbaca.com |